25 March 2021

Gotong Royong: Spirit Kurasi Kopi Nusantara

trainingcibulao2

 

Menyuguhkan kopi berkualitas untuk para penggemar kopi di Indonesia nyatanya tidak semata pada urusan teknis mendapat suplai kopi hijau atau green bean. Ada satu aspek penting lain yang perlu digarap dengan serius dengan penuh kecintaan atau passionate, yaitu keluarga petani kopinya.

Buat Rumah Kopi Ranin, keberadaan para petani kopi yang menjadi supplier green bean untuk bahan bakunya, sudah dianggap menjadi bagian keluarga sendiri. Mereka tetap otonom sebagai petani produsen kopi dalam pengertian bisa menjual kopi kemanapun mereka mau. Tapi buat Rumah Kopi Ranin, mereka menjadi prioritas dalam pengadaan kopi untuk bahan baku usahanya.

Menurut Tejo Pramono, beberapa supplier kopi kerap menghubungi untuk menawarkan diri untuk menjadi supplier green bean. Namun tawaran mereka terpaksa ditolak dengan halus. Bukan karena kualitas kopinya tidak bagus atau harganya tidak kompetitif. Alasan paling utamanya adalah karena Rumah Kopi Ranin memprioritaskan untuk menggunakan green bean dari beberapa keluarga petani yang sudah lama menjadi partnernya.

“Sejak awal mula kami membuka kedai kopi, kira-kira delapan tahun silam, sudah menggunakan biji kopi dari keluarga petani. Saat itu kami menggunakan biji kopi dari Mandailing, Cibulao Bogor dan Bungin Enrekang. Produsennya adalah pekebun skala rumah tangga petani. Meski skala usahanya kecil, tapi mereka dari awal berkeinginan kuat untuk memperbaiki kualitas kopinya. Proses belajarnya lumayan memakan waktu lama. Petani mengirimkan sample dari proses yang mereka kerjakan. Lalu kami melakukan uji sensori. Begitu diulang berkali-kali. Sampai bisa mendapatkan citarasa yang kami anggap terbaik. Bahkan kami sendiri juga ikut terlibat mengolahnya.” demikian penuturan kata Tejo Pramono, menjelaskan mengenai awal mula mempraktekan pola pengadaan kopi dengan pola kurasi.

Rumah Kopi Ranin sangat yakin bahwa kualitas kopi yang istimewa bisa dihasilkan oleh model pertanian berskala kecil atau rumah tangga. Potensi yang dimiliki oleh rumah tangga petani bahkan lebih besar, karena skala usahanya kecil. Dengan skala usaha yang kecil, maka ada kesempatan untuk memperhatikan secara detail teknis panen, olah, hingga penyimpanan kopi.

Program Kurasi Kopi Nusantara yang dirintis oleh Rumah Kopi Ranin adalah alternatif sarana untuk perbaikan kualitas kopi nasional berbasiskan rumah tangga petani. Untuk program ini, Rumah Kopi Ranin bahkan sudah berhasil membuat metodologi belajar, kurikulum, materi ajar dan bahan ajarnya, termasuk dengan metode evaluasinya. Karena itulah kini tim dari Rumah Kopi Ranin kerap diundang untuk perbaikan kualitas kopi di daerah. Termasuk pada Bulan Maret 2021 ini, mereka diajak untuk melakukan survey untuk petani di Kabupaten Paniai di Papua.

Menurut Uji Saptono, salah satu dari pendiri Ranin yang menggawangi program Kurasi Kopi Nusantara, “Metode belajar yang kami pakai adalah andragogi atau pendidikan orang dewasa, dimana porsi paling besar adalah praktek. Alasannya karena petani paling suka dengan hal-hal yang praktis. Barangkali juga karena memang di nusantara ini basis pengetahuan untuk masyarakat agraris didapat dari praktek atau laku. Mereka mau untuk melakukan berdasarkan sesuatu yang empiris terjadi.”

“Pengalaman kami, petani mau melakukan perbaikan petik, pengolahan, dan penyimpanan setelah mencicipi sendiri beda citarasa antara kopi yang diolah dengan benar dan baik dibandingkan dengan kopi yang diolah secara asalan. Karena alasan inilah, rumah tangga petani yang terlibat akhirnya belajar uji citarasa atau cupping. Alasannya adalah agar mereka tahu kharakter citarasa kopinya, mampu membedakan kopinya, dan akhirnya bisa menjadi quality control untuk produksinya sendiri.” Tambah Uji Saptono.

Sejauh ini ada beberapa keluarga petani yang telah mengikuti program Kurasi Kopi Nusantara. Di Kotanopan Mandailing Natal ada Halomoan Nasution yang paling awal melakukan kurasi kopi dari Tapanuli Selatan. Selain itu ada juga Heriyanto Nainggolan dari desa Pandumaan di Dolok Sanggul Kabupaten Humbang Hasundutan. Di desa Talang Pisang, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan ada keluarga Pak Jono yang menjadi produsen kopi Semende. Di Lampung Barat ada Heriawan di Liwa dan Suparyoto di Air Hitam yang memproduksi kopi Robusta. Di dusun Cibulao, Cisarua Kabupaten Bogor ada keluarga Yono dan Jumpono. Papandayan ada keluarga Henhen, Abah Gandi, dan Juanda yang memproduksi kopi arabika.

“Semangat kami adalah gotong royong. Kami tahu bahwa sebagian besar dari produsen kopi di Indonesia adalah pertanian skala keluarga. Kebanyakan mereka hanya menerima kenyataan untuk menjual buah cherry saja. Nah dengan ketelatenan para petani ini bisa belajar bersama sama dengan kami bagaimana menghasilkan kopi beras sendiri. Tentu saja yang bercitarasa istimewa”.

Lalu dimana hubungannya dengan peningkatan kesejahteraan keluarga petani kopi? Peningkatan kualitas citarasa berkorelasi sangat kuat dengan nilai atau harga jual dari kopi. Singkatnya bila skor citarasanya tinggi maka harga jualnya juga akan mengikuti. Jadi harga kopi bukan ditentukan oleh dasar sentimen pasar atau faktor kuatnya promosi, tetapi lebih kepada fakta empiris dari citarasanya.

Para petani yang sudah mengikuti program kurasi sudah bisa tahu berapa harga yang pantas untuk kopinya. Bahkan bila ada pembeli, mereka bisa melaksanakan uji citarasa. Dengan cara ini harga kopi benar-benar dinilai dari aspek citarasanya.

Sekedar mengambil contoh, kopi robusta Cibulao yang diproduksi oleh Jumpono dan Yono pernah berhasil menjadi juara nasional. Tentu saja capaian ini mematahkan anggapan bahwa Bogor selama ini tidak dikenal sebagai penghasil kopi. Prestasi inipun sekaligus menunjukan bahwa produk dari rumah tangga petani nyatanya bisa bernilai jauh lebih tinggi.

Capaian kualitas kopi di level keluarga petani ini menjadi dasar untuk mendapatkan nilai atau value dari serangkaian kerja keras yang selama ini telah dilakukan oleh anggota rumah tangga. Dengan cara ini pula rumah tangga petani kopi bisa memiliki harkat yang lebih kuat, bukan untuk dikasihani samata. Tetapi mereka dipandang karena kerja keras dan karya mereka memang berkualitas.

Program Kurasi kopi Nusantara ini awalnya dilakukan secara mandiri oleh Rumah Kopi Ranin. Namun dalam perkembangnnya dikolaborasikan dengan beberapa pihak yang memang memiliki tujuan yang sama. Beberapa perusahaan swasta sejauh ini telah ikut mendukung pola pendekatan peningkatan kesejahteraan rumah tangga petani kopi  yang dikerjakan oleh Rumah Kopi Ranin. Alasannya adalah memang ada output nyata yang bisa dilihat.

Salah satu  indikator yang paling penting adalah adanya jaminan pasar setelah program, karena Rumah Kopi Ranin sendiri menjadi pembeli pertamanya. Menurut Tejo Pramono, pembelian ini bukan karena alasan program. Tetapi semata karena kopinya berkualitas sehingga tidak ada alasan untuk tidak membelinya. Terlebih karena memang petaninya juga terlibat dari program kurasi.

Bukti dari ikut bangganya atas kopi kopi berkualitas hasil dari rumah tangga petani, kini Rumah Kopi Ranin menyediakan ruang pamer khusus yang diberi nama Galeri Rasa. Galeri Rasa hanya memajang kopi-kopi grade specialty dan excellent dari keluarga petani yang ikut dalam kurasi. Dengan keberadaan Galeri Rasa para penggemar kopi bisa menemukan kopi nusantara berkualitas produksi pertanian keluarga (family farmers).