30 January 2017

Wisata Kopi Humbang Hasundutan

pollung

Para penggemar kopi tak lengkap rasanya bila menikmati kopi di rumah dan coffee shop langganan. Sesekali Anda perlu pergi langsung ke kebun kopi kesukaan Anda. Menemukan petani dan keluarga pekebun kopi kegemaran Anda. Dijamin para petani akan menyambut Anda dengan suka hati, karena penggemar dari kopi yang ditanamnya ingin bertemu.

Anda penggemar kopi Dolok Sanggul atau Lintong, jangan ragu untuk datang. Kini perjalanan ke kabupaten Humbang Hasundutan lebih dekat daripada ke Medan sekalipun. Karena di daerah ini sudah ada penerbangan langsung ke Jakarta beberapa kali. Jadi wisata kopi ke Humbang Hasundutan bisa menjadi top list dari coffee adventure Anda.

Di kabupaten Humbang ada beraneka kegiatan terkait kopi yang bisa Anda lakukan. Berikut cerita perjalanan kami minggu lalu.    

Hari jumat (27/1/2017) lalu kami sempatkan pergi ke pasar Dolok Sanggul, ibukota Kab. Humbang Hasundutan. Jumat adalah hari pekan, demikian orang di sana menyebut untuk hari pasaran besar. Hari pasaran di tiap kecamatan berbeda-beda, misalnya untuk pasar Siborong-borong setiap hari selasa. Menariknya di wilayah Humbang Hasundutan, hari pekan selalu ramai dengan perdagangan kopi.

dolok sanggul3Lihatlah inang pedagang kopi di foto ini. Dia duduk di atas karung besar berisi kopi. Karung yang berukuran raksasa ini menandakan dia seorang pedagang. Di hari pekan, ibu-ibu petani pekebun kopi akan turun dari desa dan kampung-kampung ke pasar. Mereka datang ke pasar tidak membawa uang untuk belanja, tetapi yang dibawa serta adalah justru karung berukuran kecil berisi kopi gabah. Belum juga mobil mitsubishi pedesaan itu berenti, para pedagang di pasar berebut membuka pintu dan berebut menarik karung karung para petani kopi. Demikianlah pemandangan pagi-pagi dimana inang-inang menyambut para pekebun yang hendak berbelanja.

dolok sanggul

Hari Pekan adalah momen paling ditunggu orang sekecamatan Dolok Sanggul. Di hari itu mereka akan turun dari kampung-kampung membawa kopi untuk dijual. Bukan hanya para pekebun kopi yang ada di pasar, sebaliknya para pedagang pun menyambut mereka untuk menjual segala keperluan rumah tangga petani. Dua hasil bumi utama yang menjadikan pasar ini terus ramai sepanjang sejarah, kopi dan kemenyan.

Setelah kopi mereka dibeli inang pedagang ini, barulah ibu-ibu pekebun kopi bisa memegang uang untuk belanja kebutuhan  lainnya. Jam masih 11 siang, tapi inang pedagang ini sudah lapar sekali nampaknya sehingga di atas karungnya dia makan nasi bungkus. Meski bukan bulan panen raya, kopi selalu saja bisa dipanen walau sedikit. Di Humbang Hasundutan kopi banyak di produksi di kecamatan Dolok Sanggul, Pollung, Lintong Nihuta, Bakara, Paranginan, dan Onan Ganjang. Di Sumatera Utara memang hanya Kab. Humbang Hasundutan yg wilayahnya banyak di atas 1000 mdpl.

dolok sanggul 2Masih tentang Onan Dolok Sanggul yang kami kunjungi jumat kemarin. Di sebuah gang kecil tempat para  pedagang kopi dan haminjon (kemenyan), kami ngobrol lama dengan salah seorang pedagang. Dia sebut namanya Boru Hutagalung ketika saya menyalaminya dan banyak bertanya tentang dagangan kopinya menjelang tengah hari. Hari itu dia menjelaskan tentang tiga karung berisi 3 single origin di wilayah Humbang Hasundutan, yaitu Onan Ganjang, Lintong Nihuta dan Dolok Sanggul. Boru Hutagalung tak bisa menyembunyikan lagi rasa bangganya ketika kami menanyakan tentang anak gadisnya yg ikut ke pasar. Dia kuliah di Unimed Medan jurusan Pendidikan Kimia. Sudah semester empat ujarnya sambil merapikan tumpukan kopi gabah di dalam karung. Sebelum berangkat naik bis antar kota dia jumpai mamaknya di pasar. Ada beberapa lembar uang merah yg dimasukan oleh Boru Hutagalung ke dalam tas selempang anak gadisnya sempat kami lihat. Ongkos makan dan biaya kuliah katanya. Kopilah yang mengantar pemudi dan pemuda di desa-desa terpencil Humbang Hasundutan meraih pendidikan tinggi.

Sumatera Lintong Coffee

Perkenalan kami dengan kopi tanah Humbang Hasundutan tidak bisa lepas dari nama seorang pria di desa Nagasaribu, kecamatan Lintong Nihuta. Dialah Gani Silaban. Tahun 2002 kali itu di sebuah pameran kopi di Jakarta, Gani memberi tahu kami mengenai kopi dari Lintong Nihuta yang asli. Sejak tahun itu pulalah kami secara rutin menggunakan kopi yang dijamin keaslian asal usulnya dari Lintong oleh Gani.  Ganipun yang memberikan jaminan kualitas fisik dari green bean yang kami pakai.

Gani Silaban, Ketua koperasi kopi organik di desa Nagasaribu sudah lebih dari satu dekade mempromosikan kopi dari kampungnya ke dunia. Selalu hangat menyambut tamu untuk urusan kopi

Gani Silaban, Ketua koperasi kopi organik di desa Nagasaribu sudah lebih dari satu dekade mempromosikan kopi dari kampungnya ke dunia. Selalu hangat menyambut tamu untuk urusan kopi

Buat Gani kopi merupakan produk kebudayaan. Kebudayaan dari Humbang Hasundutan musti dibawa oleh kopi. Mungkin ini yang membuatnya menyangrai kopi dengan memanggangnya langsung di atas tungku. Anda musti mendatanginya langsung Gani, sebab tak satu bijipun ada kopi yang over roasted.

Buat Gani kopi merupakan produk kebudayaan. Kebudayaan dari Humbang Hasundutan musti dibawa oleh kopi. Mungkin ini yang membuatnya menyangrai kopi dengan memanggangnya langsung di atas tungku. Anda musti mendatangi langsung Gani, sebab tak satu bijipun ada kopi yang over roasted.

Orang kopi dari Nagasaribu ini memiliki banyak relasi dengan masyarakat Jepang, maklum dia adalah alumnus dari Asian Rural Institut (ARI) lembaga pertukaran pemuda desa untuk urusan pertanian organik. Kiprah Gani di kopipun membawa tema organik, melalui koperasi petani kopi yang didirikannya untuk membeli hasil petani di Lintong Nihuta, melakukan grading dan perdagangan.

Sudah dua kali kami datangi rumah Gani. Kedua kunjungan berlangsung saat dia sibuk dengan kegiatan menyangrainya. Tapi kunjungan kami yang kedua penyangraian yang dia lakukan berbeda, karena dia melakukan pemanggangan kopi secara langsung. Bukan menggunakan mesin sangrai.

Biji green bean dia masukan dalam alat sangrai yang terbuat dari jaring besi halus, lalu dengan menggunakan tangan di goyang-goyang di atas tungku arang yang membara. Ada kombinasi antara penyangraian dengan pengasapan. Namun justru itu yang menjadi ciri kopi Sumatera Lintong produksi Gani. Aroma dan citarasa asap atau smoke tanpa bisa disembunyikan muncul dalam seduhan.

Menariknya teknik sangrai ala Gani Silaban kami saksikan sendiri memiliki tingkat kematangan pada semua biji sangat seragam. Bukan hanya antar biji tersangrai. Tetapi di tiap biji warna kopi terluar dengan bagian terdalam sama, artinya proses pindah panas yang terjadi bagus.

Kini Gani bersama dengan jaringan pekebun kopi di koperasinya tengah menunggu proses untuk mendapatkan indikasi geografis atas kopi Lintong. Mereka inilah nanti yang menjadi cikal bakal terbentukanya Masyarakat Pemangku Indikasi Geografis (MPIG) kopi Lintong. Mereka ingin agar kopi Lintong terus konsisten memiliki nama bagus di kalangan perkopian. Dia sedih, banyak kopi dari daerah lain dikirim melalui Dolok Sanggul dan Lintong Nihuta, hanya karena ingin dianggap produksi Lintong oleh pembeli. Walau sebenarnya bukan diproduksi dari Lintong. Nama Lintong ke depan sayang bila terccemar oleh para pedagang yang tidak bertanggungjawab.

Anda penggemar kopi jangan segan mampir ke rumahnya. Untuk urusan kopi dia akan selalu berapi-api berbicara dan sharing segala hal. Komitmennya pada kopi adalah untuk mengangkat kebudayaan dan masyarakat di kampungnya. Jadi urusan kopi buat Gani, tidak sekedar urusan uang. Tetapi ada hal lebih besar yang dia ingin sampaikan, yaitu kebudayaan tanah kelahirannya.

 

Halomoan, juru sangrai dari Rumah Kopi Ranin, yang ikut dalam perjalanan kali ini tengah mengamati penjemuran kopi di Padumaan, Kecamatan Pollung.

Halomoan, juru sangrai dari Rumah Kopi Ranin, yang ikut dalam perjalanan kali ini tengah mengamati penjemuran kopi di Padumaan, Kecamatan Pollung.

 

  • Le Fidus Malau

    Kang, kasi alamat Gani dong…