23 August 2016

Sekolah Kopi Rakyat di Mamasa

mamasa

Tak banyak kami tahu tentang nama Mamasa sebelum menginjakan kaki di kabupaten pemekaran baru di propinsi yang juga baru, Sulawesi Barat. Menjelang berangkat kami coba cari informasi melalui internet, tapi sekali lagi memang informasi tidak banyak yang membahas kopi. Dari dunia maya kami cuma jumpai informasi seputar perjalanan yang jauh. Jalan yang masih rusak. Kabar tentang minimnya akses transportasi membuat kami makin bersemangat. Makin penasaran.  

Ketika kami sudah berada dalam perjalanan ke propinsi di Sulawesi Barat ini, baru kami rasakan benar tentang makna jauh. Di sepanjang jalan kami hitung nama-nama kabupaten yang kami lintasi semenjak lepas dari Maros, tempat bandara internasional Hasanudin berada. Bersama sopir yang mengaku kelahiran asli Mamasa kami lebih banyak bercerita tentang kebudayaan Mamasa. Tentang kerbau bule atau tedong bonga. Tentang pengawetan jenasah di dalam rumah warga. Tentang nama Mamasa yang kata asal aslinya adalah Mamase dengan arti kasih sayang. Menarik!

Sayang, tak ada lagu khas Mamasa di mobil rental kami. Pemuda Mamasa ini justru menyediakan lagu yang didendangkan nona-nona Manado. Bisa jadi karena lagu Manado cocok dengan kondisi jalanan negara yang melintas beberapa kabupaten ini. Tidak apa, setidaknya kami telah menempatkan kata “kasih sayang” sebagai kata doa perjalanan kopi pertama Rumah Kopi Ranin di Pulau Sulawesi.

Perjalanan ke Mamasa ini merupakan kerjasama bareng Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Institut Pertanian Bogor (IPB), Rumah Kopi Ranin, dan Budfilm (Produser dari film dokumenter Aroma of Heaven yang berhasil menyabet beberapa penghargaan festival film internasional).

Sebelumnya ada peneliti IPB yang telah melakukan beberapa kegiatan riset di kabupaten baru di Propinsi Sulawesi Barat itu sejak beberapa tahun sebelumnya. Namun kali ini mereka ingin melakukan kegiatan yang lebih dari sekedar riset, tetapi aksi nyata bersama petani kopi.

Tak bisa dipungkiri memang dunia akademik seperti di IPB saat ini lebih banyak hasil penelitan yang sifatnya analisis. Untuk urusan kopi, sejauh ini kami belum bisa mendapatkan hasil riset yang lebih implementatif khususnya yang terkait soal citarasa. Cukup aneh sebenarnya, kalau dunia akademik pertanian seperti IPB riset implementatif kopi justru mandek. Bukankah di Italy yang jelas-jelas sama sekali tiada bisa ditanam pohon kopi justru ada institut tentang kopi. Semoga saja langkah kecil ini bisa membuka jalan kolaborasi yang lebih serius untuk kopi Indonesia.

Menurut Dr. Sofjan Sjaff, sosiolog pedesaan yang telah melakukan penelitian sebelumnya, Kabupaten Mamasa banyak menghasilkan kopi, tapi nama Toraja lebih dikenal dari pada kata Mamase ataupun Mamasa. Jadilah kami diajak bersama untuk ikut bekerjasama dengan IPB dan pemerintah daerah Kabupaten Mamasa membuat aroma kopinya lebih wangi. Hmmm. Sebuah ajakan kolaborasi yang tidak mungkin kami sia-siakan.

Kamipun mengajak serta Budi Kurniawan, seorang sahabat yang hebat dalam produksi kerajinan visual film dokumenter. Filmnya Aroma of Heaven yang berhasil menyabet beberapa award dalam festival film di Beijing dan Iran hendak diputar untuk para petani kopi di Mamasa.

Sekolah Bersama

Kami selalu berpikir bahwa kami terlalu muda dalam hal pengalaman jika dibandingkan dari para petani yang rumah tinggalnya di tengah-tengah kebun kopi. kehidupan mereka dari bangun tidur hingga kembali tidur di bawah pohon kopi. Kurang dekat apa lagi mereka dengan kopi. Bahkan dari kanak-kanak mereka pergi sekolah melintas kebun kopi. Bermain dengan bergelantungan di antara dahan-dahan kopi. Ketika musim panen seharian penuh mereka hidup di tengah kebun. Bila musim panen raya tiba mereka pun tidur bersama biji kopi, karena ruang di rumah mereka telah ikut menjadi gudang kopi. Kehidupan para petani di daerah penghasil kopi umumnya di Indonesia demikian dekatnya dengan kopi.

Di kecamatan Mesawa pagi itu telah berkumpul dua puluh lima orang petani, perempuan dan pria serta beberapa utusan dari dinas yang ingin ikut pertemuan. Kami membangun komunikasi dengan para petani, tentang citarasa kopi. Para petani menyatakan bahwa biji kopi lah yang mereka panen dan jual, tetapi mereka setuju bahwa citarasa kopilah sebenarnya yang dinikmati. Bukan biji kopinya.

Pada sesi pagi kelas belajar bersama, kami menyeduh sepuluh cangkir dari aneka single origin di Indonesia mulai dari Aceh sampai Papua. Tidak lupa juga kopi yang kami beli di pasar terdekat kecamatan Sumarorong ikut kami seduh. Ketika kami tanya apakah ada kopi yang mereka produksi dalam seduhan di atas meja pagi itu. Mereka semua yakin bahwa kopi yang kami beli dari pasar adalah produksi mereka. Ketika kami tanya kopi manakah yang paling pahit rasanya, mereka juga sepakat bahwa kopi produksi mereka yang paling pahit.

Petani kopi di Mesawa belajar melalukan sortasi dengan praktek langsung

Petani kopi di Mesawa belajar melalukan sortasi dengan praktek langsung

Ketika kami bilang bahwa ada kopi produksi mereka juga di antara sepuluh cangkir, sambil saling menatap muka di antara mereka saling bertanya-tanya. Ketika kami tanya tentang kopi yang rasanya paling manis, secara bersemangat mereka menunjukan cangkir-cangkir yang mereka sukai. Tak terkecuali ada beberapa yang menunjuk pada cangkir kopi Mamasa yang kami sengaja sembunyikan identitasnya.

Meski menjadi petani kopi adalah profesi yang diturunkan dari generasi ke generasi, buat seorang petani di wilayah yang terpencil mendapatkan akses pada berbagai biji nusantara memang hampir mustahil. Karena itu mereka sangat antusias untuk mengetahui dimana letak kopi mereka dalam spektrum citarasa kopi nusantara.

Di sela-sela break makan siang mereka mulai berani bertanya bagaimana membuat citarasa kopi yang tidak pahit. Kami menjelaskan pada sesi berikutnya tentang sortasi dan grading kopi. Kegiatan dilakukan oleh petani dengan secara langsung melakukan kegiatan sortasi dari green bean yang mereka bawa ke acara belajar bersama. Buat mereka sebagai petani, melakukan grading siang itu baru pertama kali mereka lakukan. Siang itulah mereka memperhatikan dengan seksama bahwa biji kopi mereka masih ada sisa dahan yang ikut, biji hitam, biji ringan, biji kopi tergencet, juga beberapa kerikil kecil.

Kami pun menjelaskan, manakala ada beberapa kopi yang cacat atau defect ikut tersangrai dan diseduh, sudah pasti citarasanya akan terpengaruh. Hanya karena ada satu biji kopi hitam saja dalam cangkir citarasa aneh akan muncul. Kami sampaikan bahwa bila para petani ingin bangga dengan kopi produksinya, maka sejak dari pemanenan harus dilakukan dengan cara yang tepat. Soal citarasa, setiap daerah memiliki karakter yang berbeda tapi cara produksi yang benar wajib adanya.

Hasil sortasi para petani peserta training di Kecamatan Mesawa Mamasa (Foto Ranin)

Hasil sortasi para petani peserta training di Kecamatan Mesawa Mamasa (Foto Ranin)

Mereka pun menyampaikan bahwa sejujurnya mereka sangat jarang bisa sampai melihat panenan mereka menjadi green bean. Rata-rata mereka sudah menjual kopi dalam bentuk hard skin (HS) atau biji gabah belum kering ke pedagang atau pasar. Wajar adanya, karena saat panen petani memerlukan uang cash.

Namun kami menyarankan setidaknya mereka menyisihkan kopi yang diolah sendiri dengan benar walau tidak banyak. Kopi ini yang nanti dipakai untuk menyambut tamu manakala upacara rambu solok atau upacara adat lain diadakan. Jika mereka mempercayai bahwa rambu solok adalah upacara untuk mengantar keluarga ke surga, maka kami menyarankan harusnya aroma surgawi dari kopi mereka yang diseduh dalam upacara.