15 November 2016

Riset Kopi Bersama Ranin 

riset

Keterlibatan dunia akademik dalam memajukan perkopian sudah tidak diragukan lagi, sangat penting. Beberapa negara di dunia yang bukan penghasil kopi di Eropa atau Amerika Utara bahkan telah lama mengembangkan riset termasuk membangun coffee institute. Mereka memiliki kesadaran, meskipun kopi tidak bisa mereka hasilkan sendiri karena secara agroekologi tanaman kopi tidak memungkinkan tumbuh negaranya, tetapi mereka ingin agar sains dan pengetahuan tentang kopi bisa mereka kuasai.

Tidak heran bila hari ini referensi mengenai kopi di Indonesia banyak berasal dari sana. Misalnya beberapa kegiatan perkopian di Indonesia hari ini seperti training, kursus, pengembangan laboratorium, festival ataupun juga penyeduhan kopi banyak memakai rujukan dari luar negeri. Bila kita lihat misalnya cara coffee shop dikelola ataupun bagaimana kopi disajikan juga banyak memakai style luar negeri.  Apa mau dikata, referensi dari dunia akademis di Indonesia sendiri memang hampir dikatakan tidak ada, karena produksi pengetahuan tentang kopi juga sangat lamban.

Namun demikian, hari ini seiring dengan bergairahnya dunia kopi di Indonesia, beberapa perguruan tinggi dalam keilmuan pertanian ataupun keilmuan umum lainnya mulai tertarik dan tergerak untuk ikut melakukan kegiatan penelitian mengenai kopi. Beberapa mahasiswa dalam berbagai latar belakang keilmuan seperti budidaya pertanian atau agronomi, teknologi pangan dan gizi, sosiologi, filsafat, hingga ekonomi bisnis pernah beberapa kali datang dan berminat untuk melakukan penelitian.

Bila keinginan tersebut benar-benar terwujud tentu saja kami akan sangat senang. Keterlibatan mahasiswa atau siapa saja unttuk tujuan penelitian kopi perlu disambut dengan baik. Karena ada tujuan untuk memajukan petani kopi di Indonesia dan menjadikan kopi terbaik Indonesia menjadi tuan di negeri sendiri.

redcheery

Diperlukan lintas disiplin ilmu pengetahuan untuk mengembangkan kopi dan petani kopi di Indonesia. Tidak hanya pada aspek teknis budidaya ataupun teknik pengolahan, tetapi juga aspek sosiologi, ekologi, pengembangan masyarakat bahkan juga menyangkut aspek kebudayaan.

Namun demikian berdasarkan pengalaman, kami sering menghadapi beberapa peneliti atau mahasiswa yang datang untuk melakukan penelitian dengan pendekatan satu arah. Maksudnya ketika mereka datang sudah membawa beberapa asumsi, hipotesa, termasuk metode penelitian sendiri. Kerap tmereka datang tanpa membuka ruang dialog dengan kami sebagai pelaku, termasuk para petani atau pekebun kopi. Beberapa kali kami merasa hanya menjadi objek penelitian semata, bahkan sekedar objek tempat penelitian belaka. Padahal asumsi atau hipotesis yang mereka bawa kami rasakan sudah tidak relevan dengan realitas perkopian hari ini.

Misalnya mereka masih menganggap bahwa kopi hari ini masih merupakan komoditas hasil bumi seperti sejak jaman penjajahan Belanda diproduksi. Padahal hari ini, kopi sudah mulai diproduksi sebagai karya kriya (kerajinan) dalam pertanian dan pangan dengan tujuan untuk mendapatkan citarasa dan aroma terbaiknya. Artinya kopi bukan lagi semata bahan baku pabrik kopi, tetapi untuk menghadirkan sajian seduhan istimewa dalam kategori fine atau gourmet drink.

Contoh lain, tidak jarang kami mendapati mahasiswa dengan latar belakang ilmu manajemen ataupun bisnis ingin melakukan penelitian dengan pendekatan konvensional bauran pemasaran (marketing mix). Padahal hari ini kopi tidak relevan lagi bila cuma dipandang dari aspek persepsi atau membangun asosiasi imaji belaka untuk konsumen. Dunia kopi Indonesia sudah mulai beranjak pada aspek apresiasi citarasa, traceability (ketelusuran ke petaninya), termasuk detail produksi yang membuat citarasanya istimewa.

Setelah kami konfirmasi balik, mereka sendiri sekedar ingin menjalankan metode penelitian yang disarankan oleh dosen. Tidak jarang para akademisi sendiri juga tidak terlalu update dengan perkembangan di dunia kopi dan petani kopi Indonesia. Atau bahkan belum pernah minum kopi murni terbaik yang di produksi dari kebun petani kecil.

Buat kami riset atau penelitian mengenai kopi seyogyanya dilakukan dengan membangun kedekatan dengan subjek penelitiannya, baik itu para petaninya, juru sangrai, juru racik, dan para seniman/wati yang menggeluti kopi dengan penuh passion.

Keterlibatan para peneliti ataupun mahasiswa untuk duduk bersama menikmati beberapa jenis kopi sangat penting. Artinya para peneliti tidak lagi mengambil jarak, tetapi terlibat langsung dalam membangun tradisi apresiasi pada dunia pangan/ kopi.

Beberapa refleksi di atas sengaja kami tulis karena dunia riset dan akademik di Indonesia perlu membiasakan diri untuk membangun perspektif dialog, dalam menyusun topik penelitian, menyusun pertanyaan penelitian dari para pelaku kopi, dan selanjutnya membangun metode penelitian yang sesuai dengan problematika nyata yang ada. Dengan cara ini, melalui penelitian para mahasiswa juga dapat sekaligus belajar untuk berpikir kritis dengan membangun tradisi refleksi untuk tidak mentah-mentah mengunyah segala teori dan referensi. Justru sebaliknya, belajar bersama-sama pekebun kopi, seniman/wati mulai dari para penyangrai dan peracik yang menganggap kopi sebagai kerajinan, untuk menghasilkan pengetahuan yang lebih segar berangkat dari realitas yang mengakar.

Ketika sampai di cangkir, kebanyakan yang dikenang adalah nama merk kopi atau jika dinikmati di kedai kopi nama baristanya. Padahal dari petanilah semua itu berasal, tidakkah ilmu pengetahuan penasaran untuk meneliti mengapa identitas petani hilang dalam kopi dan juga pangan?

Ketika sampai di cangkir, kebanyakan yang dikenang adalah nama merk kopi atau jika dinikmati di kedai kopi nama baristanya. Padahal dari petanilah semua itu berasal, tidakkah ilmu pengetahuan penasaran untuk meneliti mengapa identitas petani hilang dalam kopi dan juga pangan?

Dengan pendekatan semacam ini, diharapkan dunia akademis dan penelitian bisa mengejar ketertinggalan di bidang riset perkopian nasional dibandingkan dengan beberapa negara. Sehingga kita sebagai penghasil kopi terbaik di dunia juga bisa menorehkan warna sendiri. Bukankah tanpa keberanian untuk menghasilkan pengetahuan kita sendiri, maka selamanya akan selalu mengekor apa yang dihasilkan dari luar negeri.

Kami merasakan bahwa insan profesional perkopian di Indonesia masih sangat tinggi kebutuhannya  saat ini. Tingginya kebutuhan ini karena memang daerah penghasil kopi di Indonesia sangat banyak  dan kebun penghasil kopi juga sangat beragam karena sebagian besar diproduksi oleh pekebun kopi skala kecil dan menengah. Dengan tingginya animo masyarakat atas kopi Indonesia yang berkualitas saat ini, tentu saja kebutuhan profesional di bidang perkopian ke depan makin besar.

Tingginya kebutuhan insan perkopian yang profesional ini, tidak mungkin terjadi bila tanpa diimbangi oleh dunia riset yang  menghasilkan banyak dokumen referensi yang berangkat dari realitas nyata yang ada.

Rumah Kopi Ranin terpanggil untuk ikut mendorong para peneliti dan mahasiswa untuk melakukan riset dan action reasearch agar makin memperkaya referensi, teks, dan pengetahuan tentang kopi di Indonesia.  Untuk maksud tersebut, kami telah menyusun beberapa topik atau tema dari berbagai latar belakang keilmuan yang kami pandang diperlukan saat ini.

Berdasarkan pengalaman selama ini, Rumah Kopi Ranin akan ikut membantu dalam berbagai aspek seperti untuk penentuan lokasi studi, pengumpulan data/ kuesioner atau menemukan kontak petani dan kelompok tani yang tepat, memberikan material sample penelitian, pengujian citarasa, termasuk ikut memberikan masukan pada penyusunan studi.

Kami sangat ingin mendorong agar beberapa penelitian lahir  dalam koridor kedaulatan pangan atau food sovereignty. Artinya penelitian yang dilakukan dalam semangat untuk mengangkat martabat pekebun dan petani kopi sekala keluarga. Sehingga manfaat paling besar bisa diperoleh oleh para keluarga petani di pedesaan dan daerah pinggiran hutan tempat umumnya pekebun kopi bermukim. Tema ekologi atau agroekologi sangat menarik, karena sebaiknya besarnya animo masyarakat untuk menikmati kopi yang nikmat mustinya berkorelasi dengan produksi yang memulihkan ekosistem pertanian dan kehutanan, termasuk memulihkan siklus hidrologi. Pengembangan kopi di Indonesia sebaiknya juga selaras dengan upaya mengangkat kebudayaan nusantara, sehingga kopi tampil dengan ke-Indonesiaan.

Beberapa topik riset yang bisa dilakukan dan dikolaborasikan dengan Rumah Kopi Ranin:

Ekonomi – Bisnis

  1. Aspek keberlanjutan bisnis (sustainability) pada produksi hingga produk akhir
  2. Strategi pemasaran dan distribusi kopi spesialti produksi pertanian keluarga atau koperasi petani kopi di beberapa daerah
  3. Analisis atau strategi pemasaran kopi specialty melalui coffee shop
  4. Aspek peningkatan kesejahteraan melalui kelompok atau koperasi kopi
  5. Manajemen usaha tani dari petani dan kelompok petani kopi spesialti di beberapa daerah

Ilmu Pertanian, ekokologi, pangan, arsitektur dan lansekap, industri pertanian  

  1. Pengaruh agrobiodiversity pada keberlanjutan produksi kopi (misalnya pengaruh hama dan penyakit, citarasa)
  2. Agroekologi kebun kopi (beberapa daerah dari petani pemasok green bean Rumah Kopi Ranin) terhadap produksi kopi petani.
  3. Pengaruh agroekologi (tanah, mineral, iklim, air, dll) pada citarasa dan aroma kopi
  4. Pengaruh beberapa jenis pengolahan kopi (dry and wash proccess) pada citarasa
  5. Pengaruh penyangraian (thermodinamika) dan citarasa beberapa species kopi dan daerah penghasil kopi (originalitas)
  6. Membandingkan model budidaya kopi dari beberapa daerah di Indonesia (model monokultur, polikultur, pekarangan)
  7. Desain lansekap untuk kebun kopi untuk meningkatkan aspek estetika visual dan menjaga ekologi
  8. Aspek perencanaan wilayah pedesaan dan pertanian untuk pengembangan pertanian kopi rakyat
  9. Pengaruh berbagai jenis teknik seduh kopi terhadap ekstraksi citarasa dan aroma kopi (organoleptik).
  10. Penentuan masa simpan (expire date) pada beberapa jenis kopi, kharakter sangrai dan jenis seduhan kopi.
  11. Rantai nilai dan rantai pasok, aspek nilai tambah, aspek ICT dalam rantai pasok kopi, aspek pembelajaran dan inovasi dalam produksi kopi

Sosial (filsafat, budaya, desain, komunikasi, pendidikan)  

  1. Sosiologi perkopian di Indonesia (dari petani, pedagang, hingga coffee shop)
  2. Antropologi dan sejarah kopi di beberapa kepulauan atau daerah di Indonesia
  3. Aspek pendidikan atau komunikasi tentang kopi untuk konsumen atau penggemar kopi
  4. Model pendidikan/ komunikasi untuk perbaikan kualitas kopi di tingkat petani atau daerah penghasil kopi dan konsumen/ penggemar kopi (bentuk training yang tepat, bahan ajar, dll)
  5. Desain produk dan visual untuk beberapa jenis kopi produksi petani sesuai dengan ekologi, ketelusuran (originalitas)/ etnobotani

 

Jika Anda tertarik, silahkan menghubungi atau mengirimkan tor penelitian Anda ke alamat email:  info[at]rumahkopiranin.com

 

  • Gustaaf Prihatin

    Nah, paham sudah aku, bahwa minum kopi mencerahkan fikiran.