1 April 2016

Platform Kedaulatan Pangan

food sov

Beberapa tahun terakhir ini di Tanah Air kata kedaulatan pangan demikian banyak menjadi bahan diskusi. Mulai dari ruang-ruang untuk mendiskusikan petani dan pangan seperti di dunia akademik, ruang seminar ataupun kantor LSM. Bahkan lebih dari itu hingga menyentuh ruang-ruang politik, karena kedua kata itu pun menjadi komoditas politik yang seksi untuk diolah. Di zaman ketika kata-kata banyak diberikan imaji yang kaya, tetapi dalam kondisi miskin realisasi, tulisan ini hendak mengurai sedikit tentang relasi kedaulatan pangan dengan dunia perkopian. Lebih Tepatnya mengapa sebuah Rumah Kopi Ranin menggunakan kedaulatan pangan sebagai platformnya. 

Ketika industrialisasi kopi berlangsung kira-kira tahun 1980-an secara berangsur-angsur kopi berasa tidak seenak jaman dulu lagi. Kopi enak perlahan lenyap dari cangkir penduduk Indonesia. Padahal Indonesia sejak abad 18 telah dikenal dunia sebagai produsen kopi bercitarasa premium.

Akhirnya kopi yang di minum di Sumatera sama saja rasanya dengan di Jawa. Demikian halnya di Bali, Flores hingga daerah-daerah lain rasanya sama saja. Seragam. Industri kopi telah menyeragamkan citarasa. Mengingkari citarasa spesifik asal-usul kebunnya (origin).

Hal lain, kopi hasil sangrai segar karya sang Ibu atau Nenek sudah lenyap. Diganti kopi dalam kemasan. Tanda waktu kapan sangrai, disembunyikan. Tidak ada penjelasan tentang nasab kebun tempat dimana ditanam. Juga tiada identitas Bapak dan Ibu tani yang memproduksinya. Kopi-kopi industrial yang beredar pun menjadi anonim!

Cerita tentang kopi direbut oleh reklame radio, televisi dan propaganda dagang trotoar jalanan kota. Ceritanya fiktif. Rekaan. Tapi pelan-pelan di bawah sadar seolah menjelma menjadi kebenaran baru tentang citarasa kopi. Tragisnya di era internet berkecepatan dahsyat dalam mengirim paket data dan setiap jemari menggenggam hape pintar, justru citarasa kopi dibentuk oleh iklan. Bukan hanya masyarakat awam yang dikonstruksikan pikirannya melalui tontotanan di televisi yang terpengaruh. Bahkan kelompok berpendidikan tinggi sekalipun nyatanya tak lebih dari mereka yang menggenggam kebenaran palsu tentang citarasa kopi. Iklan telah mereka jadikan pedoman citarasa.

Padahal sejarah mencatat bahwa dulu di rumah tangga masih ada kegiatan menyangrai. Dapur bukan sekedar diletakan di belakang rumah dan menyimpan barang kotor. Tetapi dapur juga menjadi sumber dari keharuman kopi. Aromanya ditebarkan ke pojok-pojok kampung. Aroma surgawi kopi kuat menempel di dinding-dinding rumah. Aromanya menjadi undangan tanpa kertas ataupun sms untuk singgah bertandang memupuk persaudaraan dan persahabatan.

Harumnya sangrai kopi bahkan bisa dipakai sebagai satuan waktu, tanpa musti berpatok pada kalender. “Kopi sangrai 3 hari yang lalu lho ini Pak!”, Ibu berujar sambil membawa cangkir ke arah suami di ruang keluarga. Tanggal sangrai dulu bisa menjadi petanda waktu.

rumah-kopi-ranin

Rumah Kopi Ranin yang beralamat di Jalan Kresna Raya 46, Bantarjati Kota Bogor beroperasi dengan menerapkan prinsip kedaulatan pangan pada setiap aspek produksinya (foto Iwan Setiawan)

Di Rumah Kopi Ranin, fakta otentik tentang kopi kami letakan di atas platform Kedaulatan Pangan (food sovereignty). Pertama, elemen paling primitif tentang otentisitas yaitu genetika biji kopinya disampaikan kepada pengunjung. Berbagai species arabika, robusta, ekselsa dan liberika dan varietasnya kami seduh. Keragaman genetika kopi, buat kami adalah bagian dari taman sari citarasa dan aroma.

Kedua, identitas keluarga petani yang menanam, merawat dan mengolahnya harus  disampaikan. Bukankah setiap biji kopi memiliki durasi waktu kebersamaan bersama petani lebih lama jika dibandingkan dengan para roaster ataupun barista. Kami tidak mau biji-biji kopi diseduh tanpa nasab yang jelas atas petaninya.

Bila setiap pengunjung mengenal secara lebih intim para petani kopi kesukaannya, maka harapan cerah pertanian Indonesia pun bisa kita sambut. Karena prasyarat untuk membangun pondasi pangan bangsa yang kuat, berakar pada kemanunggalan perasaan kita dengan keluarga petani. Sustainabilitas kopi enak Indonesia musti bermataair dari respect kepada para petani. Bukan pada pengumbaran spirit konsumerisme kapitalistik.

Ketiga, menempatkan kekriyaan (craftsmanship) sebagai elemen kunci dari kopi nusantara. Secara embeded kerajinan atau craftsmanship telah menyatu dengan praktek pertanian keluarga, seperti produksi agroekologi, petik merah (handpicked red cherry coffee), olah proses kering (dry process/ natural) dan sangrai segar. Kerajinan kopi keluarga petani ini menjadi dasar dari kemajuan kopi Indonesia.

Keinginan sederhana Rumah Kopi Ranin adalah menjadi pintu bagi sebanyak-banyaknya manusia Indonesia untuk  menempatkan Kedaulatan Pangan dalam genggaman nyata. Menjadi penikmat kopi yang “berkesadaran” nyatanya bisa berperan konkret dalam penyelamatan ekologi pedesaan, memajukan pertanian keluarga. Jadi, yuk angkat cangkir kopimu sekarang!

  • Abdul Harris Khaddafy

    Ibu bercerita, dulu mbah kopinya bikin sendiri, beli biji kopi di pasar, disangrai bersama nasi aking menggunakan wajan gerabah, lalu ditumbuk menjadi bubuk.. Kopi inilah yang tersedia di rumah mbah, selain untuk diminum sendiri sekaligus untuk disajikan kepada tamu..

    Hingga pada akhirnya tergantikan dengan kopi kemasan instant yang diproduksi massal oleh industri pabrikan..