18 September 2015

Piknik Kopi

piknik1

Tak lengkap rasanya menyukai kopi tanpa tahu kebun kopi. Itulah alasan beberapa peserta hingga kemudian memutuskan untuk ikut dalam acara Piknik Kopi. Acara Piknik Kopi diselenggarakan atas kerjasama Yayasan RMI dan Rumah Kopi Ranin.

Yayasan RMI adalah sebuah lembaga swadaya masyarakat di Kota Bogor yang aktif dalam kegiatan pendampingan masyarakat di pinggiran hutan dan melakukan berbagai studi berkaitan dengan sektor kehutanan.

Terdapat beberapa hal yang menarik dibalik kegiatan Piknik Kopi ini.

Pertama, buat Yayasan RMI inisitif mengadakan kegiatan Piknik Kopi diilhami setelah Rumah Kopi Ranin menyangrai (roasting) kopi robusta yang mereka bawa dari Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, di daerah Cijeruk Bogor. Sudah beberapa kali RMI menitipkan kopi panenan dan olahan petani dampingannya ke Rumah Kopi Ranin.

Kedua, saat acara free cupping (uji citarasa kopi terbuka buat pengunjung) pada hari sabtu, kopi robusta dari Taman Nasional Gunung Gede Pangrango disukai oleh para panelis. Mereka mendeteksi beberapa citarasa unik yang menyenangkan seperti dark chocolate, tingkat kemanisan yang tinggi. Eka dari Sentul Bogor langsung antusias dan memutuskan ikut, ketika menerima informasi acara piknik kopi. Maklum mahasiswa tingkat akhir di Jurusan Ilmu dan Teknologi Pangan ini tengah melakukan skripsi tentang coklat.

Ketiga, pilihan RMI untuk Piknik Kopi di lereng Taman Nasional Gede Pangrango menjadi daya tarik yang luar biasa karena bukan hanya tamasya ke kebun kopi, tapi juga mengenali Taman Nasional dimana ribuan plasma nutfah yang berharga buat kelangsungan hidup bumi bermukim.

Kebun Kopi di Bogor

Dalam jagat kopi Indonesia sudah sangat dikenal nama Gayo, Toraja, Bali Kintamani, Flores, Preanger, termasuk Papua. Nama Bogor tidak ada di sana karena memang tidak ada perkebunan kopi dalam skala luas di kota Hujan ini.

Meski demikian bukan berarti Bogor tidak menorehkan catatan dalam sejarah kopi Indonesia. Justru Bogor merupakan salah satu tempat dimana Belanda pertama kali mencoba untuk menanam kopi. Kala itu bersamaan dengan uji coba Belanda menanam di bantaran sungai ciliwung di daerah Jatinegara.

Hasil penelitian dari Rumah Kopi Ranin, terdapat beberapa tempat dimana masyarakat menanam kopi di Bogor seperti di daerah Ciampea, Gunung Pancar Sentul, Kelompok Tani Hutan di Cibulao Puncak, dan di daerah Lido ini.  Umumnya mereka menanam kopi species Canephora atau dikenal dengan istilah Robusta dalam sekala kecil di pekarangan, bukan dalam bentuk perkebunan besar.

Masyarakat memanen kopi sebagai tambahan untuk income keluarga dengan menjualnya kepada pedagang di pasar terdekat.

 

Piknik  

Mentari pagi baru naik sepundak tingginya ketika kami tiba di batas antara kampung dengan taman nasional. Sepanjang pematang sawah kami berbaris berurutan. Menghirup udara pedesaan yang bersih sepuas puasnya. Baru terasa tingginya polusi di perkotaan setelah membandingkan menghirup udara pedesaan dengan pepohonan nan rapat tumbuh subur.

Indra dari RMI yang mengenal dengan dekat desa Ciwaluh  menjelaskan mengenai sejarah keterlibatan mereka di batas taman nasional. Termasuk menjelaskan tentang aktivitas pekerjaan proyek yang nampak oleh mata kami agak di kejauhan. Beberapa ekskavator melakukan land clearing di puncak bukit untuk proyek sarana bermain impor dari Amerika Serikat Disneyland.

Guli yang ikut mendengar penjelasan Indra berbisik sinis, “mengapa perusakan pada ekologi dinamakan dengan istilah “pembangunan””.

Setelah menapaki pinggir sungai kecil hulu Cisadane, sampailah kami di rumah tempat kami istirahat sejenak. Segelas air hasil rebusan kapulaga dan cynamon menyambut kami sebelum duduk di bale bale pinggiran sungai yang rindang dengan pepohonan. Suara air terdengar seperti suara trebel yang jernih.

piknik4

Mang Ugan menceritakan mengenai seluk beluk kopi robusta miliknya kepada peserta.

Tak berapa lama kami istirahat, kami menuju ke curug Ciawitali. Ci artinya air, awi adalah bambu dan tali. Konon di ujung air terjun banyak rumpun bambu tali. Di sanalah Mang Ugan panjang lebar bercerita tentang pohon kopi miliknya. Robusta milik Mang Ugan pohonnya tinggi, nampak tidak pernah dilakukan perawatan dahan. Sudah barang tentu agak menyulitkan pekerjaan memanen kopi.

Pohon kopi milik Mang Ugan tepat tumbuh di batas pinggiran Taman Nasional. Karenanya tak keliru bila menyebut Mang Ugan sebagai penjaga batas Taman Nasional. Bahkan tanaman kopi miliknya boleh juga disebut sebagai pagar taman nasional.

Sangrai

Sepulang dari kebun, perut yang lapar disambut oleh masakan yang telah terhampar di lantai bale bale. Masakan kampung selalu enak! Sayurnya manis dan sambalnya terasa harum ketika bertemu dengan nasi hangat.

Acara kami tutup dengan menyangrai kopi bersama. Menyangrai di Rumah Kopi Ranin kami lakukan dengan menggunakan mesin roasting untuk mendapatkan kematangan kopi yang merata.

Namun kali ini kami menggunakan wajan di atas kompor. Tentu saja sulit untuk mendapatkan keseragaman dalam kematangan di kopi yang kami sangrai. Namun pelajaran terpentingnya buat sangrai bersama kali ini adalah kami membedakan tentang pentingnya sangrai segar. Lain waktu bila dilakukan dengan telaten tentu sangrai dengan menggunakan wajan sederhana akan meningkat kualitas keseragamannya.

Tentu saja harus dilakukan dengan jumlah yang sedikit. tetap tidak keliru dijuluki sebagai micro batch roasting.

Program piknik kopi seri kedua ke hulu sungai Cisadane sambil mengunjungi akan segera diadakan kembali oleh Yayasan RMI. Tunggu kabar berikutnya.

piknik5

Dusun Ciwaluh adalah satu dari hulu sungai Cisadane yang ikut membelah kota Bogor dan mengalir hingga ke Kabupaten Tangerang di Banten.