2 July 2015

Perempuan Pemetik Kopi

test cover ranin

Tidak banyak penggemar minuman kopi yang tahu tentang kebun kopi dan pohon kopi. Buruh dan petani kopi apalagi. Kebanyakan mereka cuma tahu bungkus kopi yang dipajang di tempat perbelanjaan atau warung kelontong.

Sebagian saja yang masa kecilnya hidup di desa dan sering memanjat pohon kopi. Sebagian besar anak-anak dusun mengenal kopi karena meraut bonggol cabang pohon kopi untuk dijadikan mainan gasing. Tapi buat orang kota mereka pasti cuma tahu dari nonton di televisi saja.

Baru dua tahun terakhir ini banyak orang kota yang mengaku penggemar kopi datang ke dusun Sukawening untuk melihat kebun kopi. Dusun ini sebenarnya tidak terlalu jauh dari kota kecamatan Ciwidey. Tapi tidak ada orang kota mau pergi menaiki punggung bukit untuk datang ke kebun.

Dulu yang kerap datang hanya petugas Perhutani. Tapi setelah kayu-kayu banyak dirambah hingga hutan gundul, tidak ada lagi yang datang.

Di siang hari cuma nyayian serangga Garengpung saja yang bernyanyi nyaring terdengar diantara di antara pokok pohon. Meski nyaring suaranya, justru keheningan yang makin dirasakan.

catatan

teh Iim menunjukan catatan hasil timbangan kepada pemetik kopi

Teh Iim tengah sibuk dengan buku catatannya di depan timbangan besi berayun-ayun yang dipanggul. Dia tengah di kebun kopi siang hari itu. Suara Garengpung tidak terdengar di telinganya. Seluruh indranya tercurah pada kegiatan pencatatan hasil petik teman-temannya yang ditimbang. Tak ingin dia keliru mencatat sehingga mengurangi hasil petik teman-temannya.

Keliru satu kilogram sungguh sangat terasa. Para buruh petik rerata menghasilkan dua puluh lima sampai empat puluh kilogram buah kopi merah atau red cherry. Setiap kilogram upah petiknya seribu rupiah. Itulah uang yang akan dibawa pulang oleh buruh petik untuk membeli kebutuhan sandang pangan masing-masing mereka.

Pada musim petik kopi, mereka dibayar bukan dari upah harian. Karena itu siapa yang terampil dan cepat untuk memetik red cherry yang bisa membawa uang lebih banyak.

Teh Iim lahir di desa ini, pun semua leluhurnya berasal dari desa ini. Masa kecilnya sebenarnya banyak dihabiskan di kebun teh. Ikut bersama orang tuanya di dari pagi hingga siang hari memetik pucuk-pucuk teh. Empat tahun silam perempuan dengan dua anak ini memilih untuk bekerja di kebun kopi.

pemetik

Menunggu giliran penimbangan hasil petikan kopi

Haji Wildan, seorang Insinyur dari IPB, membuka kebun kopi di bekas hutan milik Perhutani. Haji Wildan bukan tipe umum para sarjana pertanian yang bekerja bukan di bidang pertanian dan tinggal di kota. Sebenarnya kampus pertanian itu tidak pernah praktek pertanian, hanya nama pertanian yang terlanjur ditenteng. Hanya orang merasa tabu menyatakan fakta ini, takut merendahkan derajat kaum terpelajar.

Teh Iim mendapat kepercayaan dari Haji Wildan untuk mengorganisir para pekerja di kebun tersebut. Segera setelah subuh dia sudah harus meninggalkan rumah. Mengitari pinggang bukit lalu naik menyusuri jalan tanah berbatu selama hampir satu jam, barulah dia sampai di kebun. Kabut masih tebal di pagi ketika matahari belum muncul. Tapi mengurus kopi harus disiplin. Kesiangan hanya membuat pekerjaan semakin berat. Bila bukan karena awan yang baik hati memayungi, sinar mentari yang dipakai dedaunan kopi berfotosintesis, ikut memanggang punggung pemetik kopi.

Sebenarnya kebun kopi sudah ada di desa Teh Iim, jauh sebelum dia lahir. Kakek Buyutnya pernah bercerita waktu dia kecil bahwa Belanda dulu yang menanam kopi di desanya. Zaman Belanda dulu setelah panen raya, sayangnya banyak tanaman kopi yang terserang penyakit. Semua daunnya menguning lalu rontok. Sejak saat itu Belanda tidak mau lagi menanam kopi.

Suatu ketika seorang tamu Haji Wildan datang menanyakan apakah ada tanaman kopi tua dan ingin diantar melihat pohonnya. Tamu tersebut bercerita bahwa varietas tua tersebut adalah typica. Kopi itu menurut tamunya yang terkenal di Eropa dan Amerika dari dulu sampai sekarang. Kata tamu itu, varietas Typica dari Jawa dan Priangan itulah yang dikenal di dunia dengan nama Cup of Java. Dia mengantar tamu itu melihat kopi itu di belakang rumahnya. Pohonnya tinggal satu dan lumayan tinggi. Teh Iim tetap tidak tahu kalau pohonnya namanya typica.

Seorang ibu tua menimbang hasil petikan kopinya

Seorang ibu tua menimbang hasil petikan kopinya

Sejak panen raya di bulan Juni ini, makin banyak saja orang kota yang datang ke kebun.Sering berombongan. Kadang ada juga orang bule. Mereka biasa datang siang hari. Ikut masuk ke kebun. Kadang mengajak bicara sebentar kepada para buruh.

Selain ingin melihat dari dekat pohon kopi, biasanya tamu akan istirahat sebentar duduk di pondok. Sebenarnya bukan pondok untuk manusia, lebih tepatnya pondok untuk menyimpan kopi dan peralatan kebun. Di saat tengah hari memang nyaman untuk berteduh dari sengatan panas dan menikmati semilir angin pegunungan.

Di dalam pondok, aroma fermentasi dari biji kopi gabah (kopi HS) yang belum kering kuat menusuk. Baunya wangi karena proses penguraian gula pada daging buah kopi selepas dikupas atau pulping. Proses fermentasi itulah yang ikut memberikan rasa manis pada kopi.

Seperti semua pemetik kopi di Ciwidey, Teh Iim sampai saat ini belum tahu bagaimana manisnya kopi. Mereka cuma tahu kalau, kulit kopi yang sudah merah masak akan terasa manis. Tapi kopi rasa manis pada secangkir kopi tanpa gula, tidak terbayangkan.

Teh Iim tak terlalu peduli, tidak juga pernah memikirkan, apakah peminum kopi tahu dirinya. Di dalam cangkir sering kopi kehilangan akar sejarah dan hikayat asal mulanya. Padahal kopi tidak tiba-tiba masuk ke dalam karung. Harus dipetik. Cabangnya musti dirapikan. Dan tangan-tangan pekerja keras yang bernama petani yang musti melakukan.

Entah kapan, ada ada kedai kopi yang mengundang petani untuk bercerita tentang kopi. Biar ada cerita baru. Bukan melulu tentang profile citarasa. Tetapi lebih lengkap dengan  profil petaninya.