8 November 2016

Pahire Kopi

humbanghas3

Antara kopi dan petani yang menanamnya di Indonesia banyak menorehkan narasi kisah yang sangat unik.  Termasuk misalnya sebuah kisah tentang petani yang justru tidak meminum kopi  yang diproduksinya sendiri. Di Humbang Hasundutan contohnya.

Dalam kunjungan Rumah Kopi Ranin di bulan Oktober lalu ke beberapa kebun di wilayah Humbang Hasundutan seperti di kecamatan Pollung dan Lintong Nihuta, kami menyaksikan sendiri petani yang kami temui tidak meminum kopi produksinya di rumah mereka. Di salah satu rumah petani ketika kami singgah untuk bersama-sama menuju kebun kopi, segelas teh hangat menyambut kami. Kopi tidak hadir buat tamu rupanya.

Di kebun kopi banyak kami cerita dengan mereka tentang kopi dan penghidupan masyarakat di Humbang Hasundutan. Wilayah di Humbang Hasundutan seperti di Lintong Nihuta, Pollung dan Dolok Sanggul memiliki ketinggian yang cukup bagus untuk memproduksi kopi arabika. Rata-rata di daerah ini memiliki ketinggian sekitar 1000 meter di atas permukaan laut. Hampir setiap rumah tangga memiliki kebun yang mereka punya di sekitar rumah mereka. Cukup menarik karena tipologi kebun di daerah ini lebih tepat disebut sebagai pekarangan.

Narasi visual lebih lengkap mengenai kopi, petani dan kebudayaan Batak di Humbang Hasundutan  bisa dilihat pada video di bawah.

humbahas2

Mama Renta tengah memanen buah kopi merah di kebunnya dua bulan setelah panen raya. Selain musim panen raya, pohon kopi arabika tetap menghasilkan buah dan petani menggunakannya sebagai sumber kehidupan sehari-harinya. Sebagian besar para perempuan yang bekerja di kebun kopi. (Foto: Ndaru Adi Pranoto/ Rumah Kopi Ranin)

Menurut mereka penghasilan untuk rumah tangga banyak juga diperoleh dari kopi. Dan yang paling berperan dalam merawat ataupun memanen kopi adalah para Ibu. Sedangkan para pria kebanyakan bekerja untuk mencari menyadap ataupun mengumpulkan kemenyan di hutan.

Sepulang dari kebun kopi siang bersama-sama dengan beberapa petani, kami tidak mendapati secangkir kopi. Sebaliknya satu teko besar tuak yang disediakan bersama dengan gelas besar. Demikianlah Humbang Hasundutan, kabupaten dengan proporsi kebun kopi paling besar pada pemanfaatan lahan pertanian. Tetapi demikian adanya, mereka sendiri tidak minum kopi.

Sahabat kami di Lintong Nihuta, Gani Silaban, menyebut “ ketika di banyak negara pebisnis kopi berebut membubuhkan nama kopi Lintong, petani di kampung kami sebagian besar tidak mau meminumnya. Di daerah ini petani lebih memilih tuak utk minum sehari hari atau menjamu teman di “kede”.”  Sebagai seorang penggiat kopi Lintong memang merupakan tantangan tersendiri untuk membuat petani minum kopinya. Karena hanya setelah kopi mereka minum, maka mereka akan bisa memberikan apresiasi termasuk untuk mengajukan nilai penawaran yang lebih tinggi dari hasil panenan mereka.

Saat ini, seluruh petani di Humbang Hasundutan menjual kopinya dalam bentuk kopi dengan lapisan tanduk atau gabah. Setelah panen, kopi mereka langsung dikupas kulit buahnya dengan menggunakan pulper dan selanjutnya dijemur. Setelah setengah kering kopi tersebut langsung mereka jual kepada pedagang pengumpul kopi. Jangankan sampai menjadi kopi olahan, sampai menjadi green bean-pun para petani belum pernah alami.

Penasaran dengan kondisi tersebut, kamipun berusaha untuk menyelami realitas ini dengan membuka perspektif yang lebih luas yaitu menyangkut aspek kebudayaan Batak. Kami menemui Monang Naipospos, salah seorang budayawan Batak di Huta Tinggi, Lagu Boti. Menurut Monang dalam tradisi Batak terdapat sebuah ungkapan yang cukup dikenal luas yaitu,  “Kalau manis, jangan lekas kau telan. Manatau itu racun. Kalau pahit, jangan pula lekas kamu muntahkan. Manatau itu obat”.

humbahas

Semua petani kopi di Humbang Hasundutan minum tuak, baik di rumah ataupun di kede. Di sana mereka bersoasialisasi bersama para petani lain. (foto : Ndaru Adipranoto/ Rumah Kopi Ranin)

Memang tidak secara langsung menjawab tentang minimnya orang Batak yang minum kopi, tetapi setidaknya kami telah menemukan beberapa aspek sosiologis yang berkaitan dengan citarasa. Monangpun menyebut tentang kebiasaan orang Batak minum tuak yang dia sebut bahwa ketika minum tuak na tonggi, sebenarnya kita mengalami sesuatu yang disebut sebagai “manis setelah pahit”.

Monang menyebut bahwa sebenarnya ada sebuah tradisi Batak yang hari ini jarang dilakukan, yaitu pahire. Pahire adalah sebuah momen untuk melakukan apresiasi citarasa bersama dengan keluarga ataupun tetangga di kampung. Dalam pahire ini masyarakat akan menikmati tuak bersama dengan makanan yang mereka miliki di rumah untuk dinikmati bersama. Dalam forum pahire inilah masyarakat selain mengapresiasi citarasa, juga berbagi pengalaman tentang kegiatan bertaninya. Sehingga manakala ada persoalan yang berkaitan dengan usaha pertanian, petani lainnya biasanya bisa memberikan saran.

Forum pahire ini nampaknya perlu di coba untuk memberikan apresiasi pada kopi Humbang Hasundutan yang demikian di gemari oleh penggemar kopi termasuk yang di luar negeri, tetapi tidak di kampung sendiri. Sebuah pahire kopi, bisa menjadi momen perjumpaan penting manusia Batak dengan sanak keluarga dan tetangganya dalam menala soal “siklus penghidupan dan kehidupan”. Konon siklus penghidupan sudah terlalu di depan dari pada siklus kehidupan, sehingga diperlukan ada penyeimbangan. Moga saja kopi bisa menjawabnya.