8 March 2016

Model Bisnis Lestari di Kopi

ramp2

Seiring dengan menuanya umur bumi, makin rentan kondisi lingkungan yang didiami spesies homo sapiens ini. Di kota koloni manusia kian hari kian kesulitan hanya untuk mendapatkan air bersih untuk minum, karena air tercemar secara biologis ataupun kimia. Udara yang dihirup juga makin hari makin penuh dengan debu dan berbagai macam asap mulai dari industri makanan hingga gas kimia dari peleburan besi ataupun pembakaran sampah. Dimana-mana di Jawa ataupun luar Jawa, hingga kota-kota di belahan dunia manapun sama saja.

Pada aspek iklim global, banyak ahli iklim sangat merisaukan tentang dampak yang akan didapat manakala suhu muka bumi terus meningkat. Karenanya target penurunan sebesar 2 derajat celcius menjadi topik pembahasan dalam KTT perubahan iklim. Sayangnya, tiada langkah nyata yang diwijudkan. Berarti kerusakan makin cepat datangnya.

Tahun 2015 lalu, kemarau di tanah air terjadi berkepanjangan, dampaknya kian mengkhawatirkan karena praktek pembakaran hutan makin menjadi-jadi. Kota-kota di wilayah Sumatera dan Kalimantan dipenuhi oleh asap, pada siang ataupun malam hari. Penduduk kota dicekam oleh kecemasan. Manusia akhirnya mengalami nasib mirip koloni tikus yang menghadapi pengasapan demam berdarah di sebuah gang di area urban.

Benar. Kerentanan (fragility) dihadapi oleh dunia saat ini.  Kerentanan memerlukan respon dari penduduk bumi terkait dengan cara manusia beraktivitas. Lebih tepatnya cara manusia mengorganisir produksi dan konsumsinya. Secara lebih sederhana lagi dunia akan makin rentan, kalau cara bisnis umumnya (business as usual) hari ini tidak berubah. Sustainable business model adalah sebuah gagasan atas model bisnis yang bertransformasi dari cara produksi mainstrem konvensional, ke arah yang mampu mengembalikan (merestorasi) dan menjaga kelestarian ekologi baik yang bersifat lokal ataupun lebih luas lagi.

Tidak terkecuali dalam hal ini bisnis makanan dan minuman (food and beverages), termasuk dalam hal ini kopi. Pada hari Rabu (2 Maret 2016) kemarin Tejo Pramono, dari Rumah Kopi Ranin, diundang oleh salah satu dosen IPB Dr. Aji Hermawan, Direktur RAMP IPB untuk mengisi materi tentang sustainable business model. RAMP adalah salah satu organ dari IPB yang berkonsentrasi mendorong inovasi sosial, untuk berbagi pengalaman kepada peminat bisnis sosial (social entreprise) dari kalangan mahasiswa.

Seperti kegiatan yang selalu kami lakukan dengan IPB sebelumnya acara kami mulai dengan melakukan cupping (uji citarasa). Kegiatan ini diikuti oleh lebih kurang 30 peserta, yang memang dibatasi oleh penyelenggara. RAMP IPB rupanya dalam beberapa tahun terakhir ini cukup konsisten dan getol dalam mendorong mahasiswa untuk melakukan innovasi sosial terkait dengan pertanian dan pangan.

Kegiatan cupping sengaja diadakan sebelum sesi presentasi untuk memberikan pengalaman kepada para peserta pengalaman mencicipi kopi produksi petani yang berkualitas. Alasannya walaupun di IPB ada perkuliahan yang menyangkut bahan penyegar seperti kopi, teh, ataupun coklat tetapi tanpa pernah praktek untuk mencicipinya. Artinya mahasiswa IPB terbaik sekalipun cuma tahu hapalan proses produksi belaka, namun tidak pernah mencicipinya. Sangat disayangkan tentu saja. Bukankah orientasi kita sebagai salah satu negara produksi kopi yang disegani di dunia adalah membuat konsumsi kopi berkualitas di dalam negeri meningkat? Tetapi kalau kopi berkualitas cuma diproduksi tanpa dikonsumsi atau nikmati di dalam negeri tentu menjadi aneh.

Peserta kegiatan ini mengalami kegiatan cupping  sebagai sebuah praktikum yang akan dibawa sebagai pengalaman selama dalam hidup mereka sebagai sarjana dari kampus pendidikan pertanian.

Para peserta adalah mahasiswa yang meminati bisnis dengan membuat inovasi. (Foto RAMP)

Di depan para  mahasiswa yang meminati bisnis dengan membuat inovasi ini, Tejo Pramono berbagi pengalaman menjalankan bisnis dengan menggunakan prinsip-prinsip yang dimiliki. (Foto RAMP)

Sudah barang tentu tema tentang sustainability di bidang perkopian juga menyangkut aspek sensoriknya atau citarasanya. Artinya kopi dengan produksi yang menerapkan aspek-aspek sustainabilitas memiliki penciri sensorik yang bisa dirasakan oleh para peminum kopi. Singkatnya kopi yang diproduksi dengan cara sustainable harusnya dirasakan lebik enak bukan? Tahunya enak ya karena kita belajar (setidaknya memulai) dengan mencicipi melalui cupping.

Kelestarian (sustainability)

Dalam pandangan Rumah Kopi Ranin kelestarian atau sustainabilitas dalam dunia perkopian memiliki beberapa elemen mulai dari aspek produksi di petani hingga ke level terakhir yaitu ketika kopi berada di dalam cangkir siap diminum.

Sebagai negara penghasil kopi, Indonesia bukan hanya pernah tetapi juga sampai saat ini masih mengalami persoalan krisis keberlanjutan di bidang perkopian. Bahkan persoalan keberlajutan dalam perkopian ini, Indonesia termasuk menjadi pembahasan dunia pada awal perkopian bergulir di dunia.

Dunia mengenal karya Multatuli berupa novel Maxhavelar dengan cerita yang didasarkan kepada realitas perkopian yang ada di Lebak Banten pada masa penjajahan. Novel Maxhavelar menggambarkan tentang ketidakadilan dalam lini produksi kopi, dimana para buruh dan petani yang memproduksi kopi hidupnya miskin, karena harus menyerahkan tanahnya ataupun hanya menjadi buruh murah dengan harga kopi di kebun yang dijua dengan harga terlalu rendah. Para perusahaan yang memperdagangkan kopi sebaliknya mendapatkan keuntungan yang luar biasa.

Dimensi kemanusiaan, menurut Rumah Kopi Ranin perlu dimasukan ke dalam aspek elementer dalam pembahasan kelestarian, karena konsepsi kelestarian tidak akan berjalan tanpa meletakan aspek manusia. Karena kopi diproduksi bukan untuk menjadi proyek ekonomi eksploitasi, tetapi sebaliknya harusnya menjadi proyek kemanusiaan. Nikmatnya secangkir kopi, musti merefleksikan kesejahteraan insan petani yang memproduksinya.

Meski novel Maxhavelar sudah ratusan tahun umurnya, tidak berarti hari ini praktek yang disampaikan oleh Multatuli tersebut sudah relevan lagi. Nyatanya sampai hari ini masih banyak petani di Indonesia yang tidak bisa mendapatkan lahan untuk sekedar bertani, menghidupi keluarganya. Sebaliknya  perusahaan-perusahaan besar (onderneming) yang memiliki keuntungan besar, tetap terus diberikan ijin untuk meluaskan lahannya. Demikian halnya dengan harga jual kopi yang murah di tingkat petani ketika dijual kepada para pengumpul yang selanjutnya akan menjualnya kembali kepada perusahaan-perusahaan besar.

Akan halnya dengan kondisi industri kopi, sampai hari ini  pasar kopi di tanah air banyak dikuasai oleh beberapa perusahaan besar kopi saja. Mereka menguasai produksi kopi olahan dalam konsep industrial secara masal untuk masyarakat Indonesia dengan menggunakan kopi berkualitas asalan. Sangat menyedihkan, karena kopi-kopi bagus banyak dihasilkan petani, tetapi justru kopi kualitas asalan yang diberikan untuk masyarakat Indonesia. Konstruksi citarasa penggemar kopi dibentuk untuk meminum kopi kualitas asalan.

Para petani yang memiliki produksi kopi yang bagus tidak mendapatkan pasar, karena para tengkulak tidak memberikan harga yang lebih baik untuk kopi kualitas bagus.

Tanpa melakukan terobosan bisnis, tentu saja kondisi perkopian juga tidak akan berubah. Apalagi cuma hendak menunggu kebijakan pemerintah yang berpihak, sesuatu yang jauh panggang dari api. Bagaimana pemerintah bisa menghasilkan kebijakan yang berpihak, sampai hari ini saja kepala daerah dengan penghasil kopi saja tidak menyuguh tamu dengan kopi terbaiknya. Jadi masih jauh untuk mengharapkan perubahan tata kelola kopi yang baik dari pengambil kebijakan.

Rumah Kopi Ranin dibangun sebagai sebuah gagasan kedai kopi skala kecil (mikro) untuk mengenalkan kopi-kopi Indonesia produksi petani kepada para penggemar kopi. Rumah Kopi Ranin membangun konsep reconnecting cupper to farmer, yaitu dengan mengenalkan penggemar kopi kepada kopi-kopi produksi para petani kecil yang diolah secara kriya.  Sejak awal didirikan, Rumah Kopi Ranin melakukan pengenalan kopi kepada penikmat kopi di Bogor melalui baristanya. Semua barista atau peracik kopi dibekali dengan pengetahuan yang cukup untuk sebuah percakapan yang detail tentang kopi dengan pengunjung.

Bahkan setiap hari Sabtu Rumah Kopi Ranin mengadakan acara uji citarasa kopi secara terbuka dengan pengunjungnya. Sampai dengan awal bulan Maret ini sudah dilakukan cupping ke 63 atau sudah ada 63 minggu dilakukan cupping secara gratis untuk pengunjung. Kegiatan cupping adalah untuk mengenalkan lebih dekat kopi tidak saja dengan atribut citarasa dan aromanya, tetapi juga petani produsennya, proses produksinya bahkan juga aspek kesejarahan produksinya.

Rumah Kopi Ranin, tidak sekedar membuka ruang ngopi yang cuma bicara soal life style kaum muda daerah urban dan perkotaan. Tetapi lebih penting lagi adalah untuk menghadirkan ruang untuk belajar mengetahui kopi dengan lebih baik lagi. Masak negeri yang diakui dunia sebagai salah satu penghasil kopi terbaik, penduduknya justru kurang mengetahui tentang kopi terbaik karya petaninya. Karena itu perlu  mendekatkan masyarakat kepada petani ataupun menggemari produksi petani yanng berkualitas dalam hal ini dilakukan dalam sebuah Rumah Kopi Ranin.

Kini Rumah Kopi Ranin menjadi tempat bagi masyarakat di Bogor, untuk bisa mencoba kopi berbagai produksi petani di Indonesia. Rumah kopi ranin kini telah membekali dirinya dengan mesin roasting, sehingga produksi dari petani walau dalam jumlah kecil bisa disangrai. Sehingga para penggemar kopi bisa diajak untuk mencicipi spektrum citarasa kopi yang lebih luas. Misalnya Rumah Kopi Ranin ikut membidani lahirnya kopi robusta grade fine dari Bogor yang diproduksi dalam skala pekarangan.

Konsep kriya atau kerajinan (craftsmanship) yang dikenalkan oleh Rumah Kopi Ranin memang tidak bertujuan untuk mendorong produksi petani untuk hanya bisa dijual memenuhi kebutuhan industri besar. Tetapi lebih untuk menghasilkan kopi dengan grade yang bagus walau dalam skala yang terbatas. Menjadi petani kopi kecil dengan karya yang berkarakter kuat bisa menjadi pilihan, dari pada cuma menghasikan produksi yang hanya menjadi komoditi.

Inisiatif yang ditekuni oleh RAMP IPB untuk mendorong dan membimbing mahasiswa untuk menghasilkan inovasi sosial merupakan terobosan penting dalam dunia akademis pertanian. Karena selama ini dunia akademis pertanian terlalu tunduk kepada koridor kepentingan industri-industri besar. Sehingga menutup ruang-ruang eksplorasi untuk menghadirkan produk-produk pertanian dan pangan yang yang bisa memberikan solusi bagi petani berskala rumah tangga (peasant). Sepertinya langkah yang diinisiasi oleh RAMP hendak mentransformasikan konsepsi agroindustrial mainstream. Dari agroindustri konvensional  yang abai dengan aspek kelestarian dan terlalu mengumbar konsumerisme belaka.

Menurut Dr. Aji Hermawan saat ini RAMP mulai mengirimkan mahasiswa ke desa untuk mengumpulkan problema yang dihadapi oleh petani.  Inovasi musti muncul dari realitas bukan dari persepsi atau khayalan saja. (foto: RAMP)

Menurut Dr. Aji Hermawan saat ini RAMP mulai mengirimkan mahasiswa ke desa untuk mengumpulkan problema yang dihadapi oleh petani. Inovasi musti muncul dari realitas bukan dari persepsi atau khayalan saja. (foto: RAMP)