16 March 2017

Menjamu Tamu Jepang dengan Kopi Luwak

jepang luwak

Tim profesor ilmu kehutanan dr Jepang malam tadi (14 Maret) terpenuhi sudah rasa penasarannya atas kopi luwak (chivet coffee). Siang harinya seorang dosen IPB menelpon menanyakan apakah ada kopi luwak untuk empat orang koleganya yang berasal dari Jepang. Dan petang hari mereka akhirnya jadi singgah.Kopi luwak liar mandailing kami seduh dengan v60. Buat orang Jepang menikmati kopi secara tubruk tidak terbiasa. Mungkin karena dirasa ampas yang kadang ikut terminum akan mengganggu. Sebagaimana biasa kami menyeduh kopi luwak, kali ini kami sajikan dengan perbandingan seduhan kopi non luwak dari kebun asal yang sama. Mereka mulai dengan minum kopi luwak. Lalu kami sodori yang bukan luwak. Komentarnya kopi luwak terasa lebih halus di dalam rongga mlut dan ketika mengalir melalui tenggorokan.

Tiada yang salah dari ungkapan spontan empat orang Jepang tamu kami. Testimoni spontan mereka penting, maklum kami kerap mendengar keluhan bahwa kopi luwak kerap dijual sering bukan diproses ataupun di seduh dengan baik. Misalnya sering kita mendapati ada kedai kopi yang menyimpan kopi yang masih bercampur dengan kotoran luwak. Tentu saja cara penyimpanan tersebut tidak tepat, karena kotoran luwak bisa dipastikan kotor dan tidak semestinya melekat bersama kopi. Para petani yang telah mengetahui cara memproduksi kopi luwak yang benar selalu mencuci langsung kopi luwak yang baru mereka temukan di kebun. Setelah itu mereka langsung menjemur dan mengeringkannya. Dengan cara ini kopi yang diperoleh adalah kopi yang bersih dari kotoran dan terhindar dari potensi ditumbuhi jamur.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah, kopi luwak baiknya diperoleh dari alam terbuka alias bukan dari luwak tangkar yang diberikan pakan kopi.

Sambil menikmati kopi luwak kami sempat menceritakan asal muasal munculnya kopi luwak. Dari folklor yang umum dipahami masyarakat, kopi luwak berasal dari pola perkebunan kopi pada masa penjajahan Belanda. Karena semua panenan kopi diambil oleh Belanda, maka para petani Indonesia tidak bisa minum kopi yang sebenarnya mereka tanam sendiri. Mereka hanya bisa minum kopi setelah mendapati ternyata kotoran hewan luwak terdapat bijian kopi. Sungguh tiada disangka bahwa kini kopi luwak ternyata menjadi kopi termahal di dunia.

Beberapa tamu dr Jepang, Korea Selatan, China, dan Taiwan sering kali sangat penasaran dgn kopi luwak. Untungnya kami selalu sediakan stok khusus. Pernah beberapa kali kami mengirimkan kopi luwak dalam bentuk green bean ataupun roated bean ke Seoul dan Taipei.

Buat Anda yang mendapatkan kunjungan teman dan sahabat dari luar negeri, tiada salahnya untuk mengajak mereka mengenal kopi-kopi nusantara. Mereka pasti akan tertarik, karena umumnya mereka menyukai kopi dan sangat jarang yang mengenal cerita dibalik kopi. Selama ini beberapa kawan kami memang lebih senang memilih kopi sebagai jamuan buat tamu istimewa mereka. Termasuk untuk oleh oleh mereka kembali ke negaranya.

Kopi akhinya kini telah menjadi semacam memori Indonesia yg indah dalam aroma dan citarasa.