26 August 2015

Kunjungan Sang Begawan

Bapak Surip Mawardi, mantan Direktur Puslit Kopi dan Kako Jember ditemani oleh Budi Kurniawan, Sutradara film dokumenter Aroma of Heaven.

Meneliti berbagai jenis varietas dan klon kopi Indonesia. Mencicipi ribuan jenis kopi dari kebun kopi tanah air. Dua sosok penting perkopian Indonesia. 

Akhir Bulan Agustus terasa sangat istimewa buat Rumah Kopi Ranin. Bukan saja karena kita masih hangat dengan perayaan 70 tahun kemerdekaan dengan lomba-lomba di tingkat kampung.

Tetapi, secara lebih khusus buat kami hari minggu dan senin kami mendapat kehormatan kunjungan para Begawan kopi Indonesia. Bapak Surip Mawardi datang dijemput langsung oleh co-founder Rumah Kopi Ranin Sdr Uji Saptono ke terminal Bis Damri Bogor. “Ini tamu agung buat Ranin”, ujarnya pendek.

Lelaki kelahiran Klaten itu memimpin Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (ICCRI) di Jember selama beberapa tahun sebelum akhirnya pensiun. Di bawah kepemimpinan Pak Surip, ICCRI secara rutin mengadakan kelas uji citarasa kopi (cupping) yang diikuti oleh para penggerak dunia perkopian Indonesia. Seri kelas cupping ICCRI selalu penuh dengan peserta dari dunia bisnis seperti pabrik kopi, pedagang kopi, perusahaan perkebunan, tak terkecuali petani kopi, para pemilik kedai kopi termasuk peracik kopi (barista).

Aspek citarasa adalah salah satu hal yang paling ditekankan oleh Pak Surip. Dan dimana saja tempat berjumpa dengnya urusannya adalah perkopian. Dia selalu berujar kita harus terus melahirkan kopi-kopi dengan citarasa khusus yang bagus dari daerah. “Karena citarasa unik yang berkelas tadi adalah syarat buat kopi single origin dari Indonesia yang beragam ini untuk tampil. Saya sudah mencoba banyak kopi dari Amerika Latin, dan citarasanya tidak sekompleks yang kita punya di Indonesia. Tentu saja kita musti memperhatikan aspek genetik atau bahan kopi yang kita tanam, lokasi, kesuburan, pengolahan, hingga bagaimana kopi di sangrai”

Sambil ngobrol santai Minggu siang kemarin peracik kopi Ranin menyajikan kopi dengan seduhan chemex buat kami.

“Ini kopi pangalengan dengan proses natural!” Rupanya buat orang sekelas Surip Mawardi citarasa kopi Indonesia itu sudah menempel dalam rongga mulutnya. Tanpa ada yang memberi informasi, Beliau sudah tahu single origin apa yang dihidangkan.

Syukurlah beliau berkomentar bagus tentang seduhan kami. “Citarasa dark chocolate sangat mengesankan kopi ini. Juga fruity-nya.”

Ah. Pak Surip. Lega rasanya mendengar komentar tadi. Sebelumnya ada perasaan deg-degan.

Ciri kebegawanan Surip Mawardi adalah sikapnya yang sangat rendah hati dan selalu mencairkan suasana. Sehingga penjelasan-penjelasan mengenai kopi yang sesungguhnya penting dan butuh pengetahuan, bisa disampaikan dengan baik dan dimengerti oleh lawan bicaranya.

Tanpa kami duga. Senin siangnya giliran Pak Yusianto yang singgah. Beliau adalah guru uji citarasa sekaligus penguji kopi atau tester di Puslitkoka Jember.

Kali ini para Anggoro dan Lomo mendapatkan kesempatan untuk ngobrol dengan Pak Yusianto. Beberapa single origin diseduh oleh mereka berdua untuk Pak Yusianto. Dan kami membandingkan ketiganya. Sebelum ada komentar lebih jauh saya sudah berujar,” Mohon maaf Pak bila profile roasting agak gelap”.

yusianto

Pak Yusianto Sang Guru Cupping Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Nasional di Jember

“Ini justru yang pas. Buat orang Indonesia profile roasting sampai hari ini yang bisa diterima adalah yang bodinya relatif tebal.

Surip dan Yusianto adalah nama yang selalu menjadi referensi dalam setiap lelang atau festival kopi nasional. Tentu asalan utamanya adalah karena pengalaman puluhan tahun keduanya dalam bidang kopi. Tidak saja sebagai peneliti di laboratorium, tetapi juga pengalaman lapangannya yang sangat luas di kebun kopi di Indonesia.

Kunjungan keduanya ke Bogor dalam rangka menjadi pengajar pada Pelatihan Mutu Citarasa Kopi dengan Menggunakan Bioteknologi yang diselenggarakan oleh Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri. Kami dari rumah kopi ranin merasa bangga karena ikut diminta berbagi pengalaman dalam kaitan dengan aspek citarasa kopi di Indonesia saat ini. Pada kesempatan tersebut kami sempat menjelaskan mengenai tren pengopi yang merindukan kembali kopi-kopi single origin yang disangrai segar. Cukup menarik, karena sejatinya kecenderungan tersebut adalah kebangkitan kembali kebudayaan kopi tanah air yang selalu sangrai segar.