18 February 2016

Kuliah Kopi Buat Ekpatriat Bogor

IMG-20160215-WA0046

Sejak pertama rumah kopi ranin beroperasi, kira-kira 3 tahun yang lalu, tanpa kami duga para ekspatriat banyak yang datang berkunjung. Kami tidak secara khusus melakukan segmentasi untuk orang asing, karena kopi kami seduh untuk semua orang. Bisa saja mereka sendiri yang telah lama mengidamkan banyak pilihan kopi Indonesia hadir di kota Bogor.

Terlebih, ketika musim liburan, sebelum mereka pulang banyak yang membawa buah tangan biji kopi untuk sanak family dan sahabat mereka di negara Eropa ataupun Amerika Utara. Ingat kopi Indonesia sudah terkenal sejak tahun 1700 an di Eropa, dan nama kopi Indonesia sangat melekat. Bukankah hari ini mereka masih menyebut Cup of Java untuk secangkir kopi.

Mendapatkan kepercayaan untuk menyediakan buah tangan buat keluarga dari Indonesia, sungguh kepercayaan yang penuh tanggung jawab. Karena itu bukan saja kami menyangrainya dengan hati-hati tetapi juga memberikan informasi detail tentang biji yang hendak mereka bawa.

Senin (15/02/2016) malam kemarin, kami menjumpai salah satu dari komunitas ekspatriat di Bogor, yaitu para orang tua dan anggota Intercultural School of Bogor (ISB). ISB setiap bulan menyelenggara acara Lecture di sekolah mereka. Pada sesi keempat, mereka ingin mendengar secara langsung perihal kopi Indonesia. Malah secara lebih khusus kami menampilkan kopi Bogor termasuk mendatangkan petaninya untuk berbicara secara langsung dengan para peserta.

IMG-20160215-WA0048

Pak Yono memberikan tanggapan kepada para peserta tentang bagaimana proses untuk meningkatkan kualitas kopi miliknya. (foto Iwan Setiawan)

Para peserta tidak menyangka bahwa Bogor, tempat dimana mereka selama beberapa tahun ini tinggal, ternyata menjadi tempat di mana sejarah kopi Indonesia pertama kali diukir. Benar, karena perkebunan kopi pertama di Indonesia, salah satunya lokasinya adalah Bogor dan daerah Priangan bagian barat.

Kami sengaja ikut mendatangkan Pak Yono dan Pak Jumpono, dua orang petani kopi dari Tugu Utara, Cisarua, yang selama ini juga sering kami tampilkan dalam blog ini. Perjumpaan petani dengan para ekspatriat ini penting untuk menyambungkan cerita  kopi, agar kopi tidak hadir sendiri. Tetapi kopi menjadi bagian penghubung antara para penikmatnya dengan para petani yang menanamnya. Terbukti banyak ekspatriat malam itu yang juga ingin berkunjung ke kebun kopi di Bogor.

Kopi adalah tentang citarasa dan aroma, karena itu kami tidak ingin banyak berkuliah dengan kata-kata. Tetapi lebih penting adalah biarlah lidah yang melakukan apresiasi terhadap kopi Indonesia. Karena itu kami datang bersama Lomo dan Anggoro, dua orang peracik senior kopi di rumah kopi ranin untuk melakukan uji citarasa (cupping).

IMG-20160215-WA0041

Tidak hanya para ekspatriat yang mengikuti acara Lecture di ISB, terlihat Mas Iwan dan Mbak Naomi istrinya ikut serta malam itu, Keduanya adalah pelanggan rumah kopi ranin. (Foto Iwan Setiawan)

IMG-20160215-WA0038

Sendok cupping ibarat pena untuk membuat lukisan untuk mengilustrasikan citarasa dan aroma dari kopi. Karena itu cupping bukan kita maknai untuk menjadikan semua orang sebagai tester ala industri kopi. Tetapi memberikan pena agar kopi bisa diberikan apresiasi. (foto Iwan Setiawan)

Jim, Kepala Sekolah ISB, menghirup aroma kering dalam kegiatan lecture tentang kopi Indonesia.

Jim, Kepala Sekolah ISB, menghirup aroma kering dalam kegiatan lecture tentang kopi Indonesia. (foto Iwan Setiawan)


  • Abdul Harris Khaddafy

    Dari petani kopi Indonesia untuk dunia, mantap. Kini petani kopi sudah mulai menjadi subjek.