26 May 2016

“Kuliah Film Aroma of Heaven di Kampus IPB”

aroma of heaven

Akhirnya film dokumenter Biji Kopi Indonesia singgah kembali di Bogor. Kali ini film yang baru saja diputar dalam festival kopi di Amerika Serikat ini, ditayangkan untuk mahasiswa, dosen dan pecinta kopi di Kampus Institut Pertanian Bogor IPB selasa lalu (24/5/2016). Kegiatan pemutaran film ini adalah bagian dari kegiatan yang diprakarsai oleh Coffee Talk yaitu komunitas pecinta kopi di kalangan dosen IPB dan alumni IPB yang bergerak di dunia kopi baik sebagai petani, kafe dan coffee roastery. Kegiatan ini didukung oleh Dekan FAPERTA IPB, Pusat Penelitian Perencanaan dan Pengembangan Wilayah (P4W) dan BEM IPB serta CV Frinsa, Rumah Kopi Ranin, INFIS dan Konsorsium Save Puncak.  

Hari ini perjalanan film dokumenter dalam format layar lebar yang diproduksi oleh Perusahaan Film Negara ini sudah dua tahun sejak diluncurkan pertama kali. Selama itu sudah berkeliling ke banyak tempat. Bertemu dengan berbagai macam kalangan mulai kedai kopi, komunitas film dan kurator film dunia, juga dengan komunitas petani kopi.

Kiprahnya di jagad film dunia bahkan juga menjadi fenomena tersendiri. Maklum di tanah air, hampir tidak ada pembuat film yang memproduksifilm dalam genre dokumenter. Tapi Sutradara Budi Kurniawan justru memilih genre ini. Bahkan sutradara penggemar berat kopi ini menekuni film dokumenter dengan teramat serius. Buktinya film ini telah menyabet dua buah award internasional, masing-masing pada festival film di Teheran Iran dan di Beijing Tiongkok tahun lalu.

Akan halnya persinggahan film Aroma of Heaven di Kota Hujan, kali ini adalah kunjungannya yang kedua. Sebelumnya film ini telah diputar di Rumah Kopi Ranin dua tahun lalu. Pemutaran di kedai kopi waktu itu termasuk istimewa. Karena saat itu merupakan pemutaran perdana film ini di kedai kopi. Menurut salah satu penggemar kopi di Bogor, Jodi, “Film ini mengajak penggemar kopi untuk berjumpa secara visual dengan petani, kebudayaan, alam dan ekosistem bahkan juga dengan  para penggerak perkopian di tanah air melalui gambar yang bergerak indah. Filmnya sangat berbobot.”

Sementara untuk pemutarannya yang kedua di Bogor kemarin, menurut Sutradara Biji Kopi Indonesia, Budi Kurniawan, “Di Kota ini ada Institut Pertanian Bogor sebagai kelembagaan akademik pertanian terbesar di Indonesia, lengkap dengan dosen, mahasiswa, pengajaran dan penelitiannya dalam satu kesatuan. Film ini penting untuk diputar di kalangan akademis pertanian, sebagai referensi visual. Karena buat saya sebagai pembuat film, film menjadi referensi visual yang tidak kalah bobot dengan jurnal dan buku-buku sejarah pertanian. Formatnya yang dokumenter menjadikan film ini adalah catatan yang sifatnya arkhaik. Dengan film ini kami mengantar dunia akademik untuk sebuah perjumpaan secara visual dengan petani kopi nusantara. Karena selama ini perjumpaannya lebih banyak dengan industri.”

IMG-20160525-WA0017

Para mahasiswa IPB setia mengikuti acara dari awal hingga akhir mengindikasikan keinginan mereka mengetahui tentang kopi. Seperti panggilan bagi seorang yang bergelut di dunia pertanian untuk ikut secara aktif terlibat mengurus kopi. (foto Iwan Setiawan)

Sebagai seorang Sutradara film, Bogor menjadi tempat yang istimewa buat Budi. Salah satu mimpi besarnya adalah membuat festival film pertanian bertaraf  internasional di Bogor. Mimpi Budi ini nampaknya berangkat dari sebuah kesadaran yang kuat atas dimana musti kita berangkat untuk mengelola diri kebangsaan. Di sebuah negeri agraris kita memerlukan pentas bagi petani. Karena media visual kita telah lama dijajah oleh produk-produk dan hegemoni korporasi agribisnis. Kita perlu festival film pertanian, sebagai referensi bahwa para petanilah sebenarnya yang menyelamatkan kehidupan kita sebagai bangsa. Karena orientasi petani adalah kehidupan keluarganya dan juga desanya. Sementara korporasi pijakan bergeraknya adalah akumulasi profit diri individualnya.

Dalam pemutarannya di Kampus IPB kemarin, kurang lebih 300an orang penonton seperti tersihir duduk dan tidak bisa beranjak dari kursinya hingga film usai dan lampu dinyalakan. Beberapa tayangan adalah realitas keluarga tani dalam menyikapi desa dan kebunnya sebagai kecintaannya atas hidup.

Kecintaan seorang petani Muhtasarun di Gayo Aceh kepada kebun kopinya digambarkan dengan ketekunanya memiliki dan merawat banyak varietas kopi. Sebagai petani yang sederhana, dia bahkan sudah layaknya dengan peneliti kehidupan kopi. Bila seorang peneliti di lembaga penelitian masih menganut konsep rumah pribadi dan kantor penelitian. Muhtasarun menjadikan kebunnya sebagai ruang hidupnya itu sendiri. Koleksi bibitnya tidak kalah dengan pusat penelitian kopi atau koleksi benih di perguruan tinggi pertanian. Muhtasarun ditampilkan memperlakukan tanaman kopinya ibarat sebagai anggota keluarga nya sendiri. Saat bunga kopi mekar, dia mengibaratkan untuk mendapatkan panen yang bagus, diperlukan pembungaan yang bagus dan cuaca yang mendukung. Bunga kopi dia namakan sebagai Siti Kewe, sedangkan lekaki yang meminang Siti Kewe adalah angin kebun.

Sebagai film dokumenter, seluruh yang ditampilkan adalah realitas sehari-hari yang sebenarnya dari para tokohnya. Bukan akting atau kepura-puraan dan rekaan. Sebagai film dokumenter, film Biji Kopi Indonesia tidak menuliskan skenario fiksi! Tetapi dari riset sejarah kopi dan mendapatkan frame dari lokasi langsung.

Dan di lokasi tempat kopi ditanam semua yang ditampilkan adalah kecintaan para petani atas kebun dan tanaman kopinya. Seorang Mama dari Flores bertutur, “Kopi telah memberikan kami seluruh penduduk di kampung ini makan, tapi apa yang telah kami penduduk berikan untuk kopi?”

IMG-20160525-WA0018

Menjadi pemandu cupping bagi Uji Saptono adalah ibarat menjadi seorang guru di sebuah sekolah. Tugasnya adalah mengantarkan siswa untuk mengetahui tentang kopi dengan merasakannya, bukan terlalu banyak dengan teori. (Foto Iwan Setiawan)

Doktor Gunawan, sebagai dosen dan pakar ilmu tanah IPB yang ikut menonton film merespon penuturan Mama petani flores itu sebagai kesadaran seorang petani untuk menjaga kesuburan tanah. Karena sejatinya dalam ilmu tanah yang disebut dengan kesuburan adalah ketersediaan bahan organik di dalam tanah. Karena itu petani perlu untuk memberikan makan pada kopi dengan memberikan tanah kondisi ideal baik dengan bahan organik biomasa ataupun lingkungan iklim mikro dengan naungan. Pupuk kimia tidak bisa memberikan kesuburan ideal seperti yang dilakukan oleh petani tersebut.

Penjelasan Doktor Gunawan adalah resensi akademis yang menarik dari film yang didedikasikan untuk memberikan penghormatan kepada petani kopi. Penjelasan Pak Gunawan memberikan dasar ilmiah, bahwa seorang petani kopi bukanlah si bodoh sebagaimana umum memberikan sterotype kepada manusia petani. Sebaliknya film ini berhasil menuturkan secara visual bagaimana konsep hidup seorang petani yang justru melampau konsepsi mainstream tentang modernitas di bidang pertanian. Bagi manusia petani, agrobiodiversitas adalah keluarga yang musti dijaga kehormatanya, sementara dunia agronomi mainstream menganut teologi monokulturisme karena konsepsinya alam adalah pelayan belaka.

Sebagai seorang tester kopi yang sekaligus terlibat dalam pembuatan Film Aroma of heaven ini, Uji Saptono, memberikan penjelasan bahwa bahwa penayangan kebudayaan adat Osing sebagai pembuka dan penutup film merupakan akar dimana kebudayaan kopi berada. Maksudnya hadirnya kopi ditengah keluarga adalah untuk sebuah perayaan atas persahabatan dan persaudaraan. Masyarakat desa adat Kemiren menyebut bahwa “sekali seduh, kita bersaudara” artinya ketika seorang tamu sudah masuk ke dalam rumah dan diseduhkan kopi oleh empunya rumah, maka hilang sudah kata tamu karena telah menjadi bagian dari saudara.

Menurut Uji,”Kopi untuk menjadi jamuan seorang saudara atau anggota keluarga musti kopi yang diolah benar. Bukan kopi yang diolah pabrik dimana si penyeduh sendiri tidak mengetahui kapan diolahnya. Semangat atau spirit persaudaraan memberikan persyaratan bahwa ketulusan selalu diikuti dengan komitmen untuk sesuatu yang terbaik. Termasuk bahwa kopi yang disajikan terbaik. Di desa Kemiren banyuwangi masyarakat menyangrai kopi sendiri di dapur. Modernitas ala industri ala kopi kopi instan adalah bukti kegagalan peradaban pangan, karena minuman persaudaraan dihadirkan tanpa spirit persaudaraan yang direfleksikan dalam citarasa otentik.”

IMG-20160525-WA0005

FAPERTA IPB membuat langkah terobosan dalam memahami kopi, karena dilakukan dengan menyeduhnya. Selama ini kegiatan akademis kopi lebih banyak pada aspek teoritis saja, padahal kemajuan perkopian kini justru mengedepankan aspek citarasa. (foto Iwan Setiawan)

Sebagai alumnus dari Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi IPB, Uji Saptono, memiliki tugas penting di ranah perkopian Indonesia. Salah satunya karena dia berani untuk mengambil peran mendorong hadirnya insan-insan perkopian Indonesia yang memiliki latar belakang akademis ilmu pangan.

Menurut Uji, “film Biji Kopi Indonesia ini adalah uluran lengan untuk berjabat tangan bagi mereka di dunia ilmu pangan untuk bergabung bersama mengurus kopi Indonesia. Jangan kita di negeri penghasil kopi terbaik, tetapi ahli pangan tahunya cuma kopi instan yang diproduksi dengan filler citarasa dan aroma sintetis.”

Dr. Agus Purwito, Dekan Faperta, IPB menakankan bahwa kopi Indonesia musti diapresiasi oleh dunia pendidikan. (Foto Iwan Setiawan)

Dr. Agus Purwito, Dekan Faperta, IPB menakankan bahwa kopi Indonesia musti diapresiasi oleh dunia pendidikan. (Foto Iwan Setiawan)

Dorongan besar untuk mengenalkan kopi produksi keluarga tani yang berkualitas di kalangan akademis di IPB banyak dilakukan oleh Coffee Talk, yang dikomandoi oleh Dr. Ernan Rustiadi. Menurut Pak Ernan, demikian Beliau kerap dipanggil oleh penggiat lingkungan di Bogor, dunia akademik musti berperan lebih besar lagi dalam mengapresiasi produk-produk petani. Kopi adalah salah satu produk dari pertanian keluarga yang kini bahkan sudah banyak diapresiasi oleh pecinta kopi di manca negara. Aneh bila di luar negeri kopi enak dari Indonesia banyak dikenal, tapi di dunia pendidikan pertanian belum dicicipi.

Kelompok Coffee Talk kini telah beberapa kali mengunjungi kebun-kebun petani baik di Bogor ataupun di Jawa Barat. Di Bogor, konservasi wilayah Puncak kini juga ikut dilakukan dengan menanaminya dengan kopi. Dampingan P4W IPB di wilayah Cibulao Tugu Utara Kabupaten Bogor buktinya kini makin dikenal dengan kopi produksinya. Upaya pelestarian mata air sungai Ciliwung kini bisa makin dikenal setelah produk kopinya juga terkenal enak.

Metode belajar kopi untuk petani difasilitasi oleh Coffee Talk dengan mengajak petani untuk melakukan exchange, yaitu mengunjungi petani kopi lain yang menjadi anggota Coffee Talk. Misalnya bulan April lalu petani dari Cibulao difasilitasi untuk belajar kepada Pak Wildan Mustofa yang kebun kopinya di Ciwide baru saja menjadi juara dalam kompetisi yang diselenggarakan oleh Puslit Kopi dan Kakao. (Penulis : Tejo Pramono)

Kopi produksi keluarga petani telah terbukti bisa menjadi kopi juara dalam citarasa di level dunia, karena itu menurut Dr. Ernan Rustiadi di dalam negeri mendapatkan penggemarnya. (foto Iwan Setiawan)

Kopi produksi keluarga petani telah terbukti bisa menjadi kopi juara dalam citarasa di level dunia, karena itu menurut Dr. Ernan Rustiadi di dalam negeri mendapatkan penggemarnya. (foto Iwan Setiawan)