9 May 2014

Kedai Kopi Berkedaulatan

Rumah-Kopi-Ranin-700x456
Rumah Kopi Ranin merupakan eksperimentasi bisnis yang mengawinkan cita-cita kedaulatan pangan dan hobi dari dua orang aktivis pertanian. Ranin itu sendiri merupakan akronim dari Rakyat Tani Indonesia. Pendiri Rumah Kopi Ranin memang menggeluti permasalahan pertanian dan mengenyam pendidikan sedisiplin di Institut Pertanian Bogor (IPB). Dengan bekal pengalaman panjang dalam mengorganisir kegiatan-kegiatan politis para petani, tak mengherankan jika Rumah Kopi Ranin memiliki rantai pasokan dan rantai nilaigreen bean yang mereka bangun sendiri. Dibangun pada 2012, di Jalan Ahmad Sobana 22A, Banjarjati, Bogor, kini Rumah Kopi Ranin menjadi ikon baru kota hujan dalam soal gerakanmanual brewing.

kedaulatan konsumen dan produsen kopi adalah tujuan utama dan bersama. Artinya konsumen bisa mendapatkan kembali kualitas pangan premium yang selama ini terkikis oleh semangat konsumerisme yang didiktekan oleh koporat pangan

Rumah Kopi Ranin didirikan oleh Tejo Pramono dan Uji Sapitu. Keduanya merupakan aktivis dalam dunia pertanian sejak kuliah. Tejo Pramono merupakan salah satu aktivis La Via Campesina, organisasi dari gerakan internasional para petani gurem tak bertanah dan masyarakat adat. Tejo Pramono dan Uji Sapitu banyak terlibat dalam isu sosial secara umum dan kedaulatan pangan secara khusus. Bagi mereka berdua, konsumen perlu menyadari bahwa kedaulatan konsumen dan produsen kopi adalah tujuan utama dan bersama. Artinya konsumen bisa mendapatkan kembali kualitas pangan premium yang selama ini terkikis oleh semangat konsumerisme yang didiktekan oleh korporat pangan.Rumah Kopi Ranin mereka harapkan bisa menjadi jembatan dalam menghubungkan kembali konsumen kepada petani. Tujuannya adalah untuk menegakkan keberlanjutan kehidupan(sustainable livelihood). Permasalahan keterpisahan antara konsumen kopi dengan produsen kopi merupakan gejala akut dalam dunia kontemporer. Konsumen dan produsen saling terasingkan sedemikian rupa. Kopi pada akhirnya menjadi citra yang memediasikan relasi sosial antara konsumen dan produsen. Kopi menjadi tereifikasikan. Dan pada akhirnya, konsumen dan produsen yang tereifikasikan ini menjadi spectacle.

Rumah Kopi Ranin

 

 

 

 

Lelaki paruh baya itu datang mendekat meja kami. Rambutnya pendek. Sebagian sudah memutih, menandakan pergulatannya terhadap dunia pemikiran. Setelah melempar senyum, dia menggeser kursi dan menempatinya. Sejurus kemudian, dia menyilangkan kaki. Aku menyulut rokok ketika dia bertanya: bagaimana kopinya, Mas?

Tejo Pramono dan Uji Sapitu selalu berusaha untuk meluangkan waktu untuk menyapa para tamunya. Mereka tak sungkan untuk berbagi informasi mengenai kopi yang mereka gunakan, termasuk soal petani yang menghasilkan kopi mereka. Karena sikap “aktivisme” para pendirinya, tak mengherankan jika sesekali waktu Rumah Kopi Ranin menjadi ruang untuk berdiskusi—biasanya dilakukan di lantai atas—atau tempat berkumpul beberapa peneliti dari IPB.

Para pelanggan yang datang ke Rumah Kopi Ranin memang penasaran dengan karakter cita rasa dari kopi yang disuguhkan oleh kedai kopi ini. Untuk kota Bogor, kedai kopi yang menyajikan kopi spesialti terbilang langka. Tak berlebihan jika pada akhirnya Rumah Kopi Ranin mampu menggoda para penggemar kopi untuk datang. Mereka menggunakan kopi dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka bekerja sama dengan seorang ahli grading kopi yang memiliki idealisme untuk menjadikan specialty coffee dari Indonesia bukan hanya untuk ekspor, tetapi untuk konsumen dalam negeri.

Meski kopi terbaik Indonesia itu hampir 90 persen diserap oleh perusahaan besar luar negeri, Rumah Kopi Ranin tetap mampu menggunakan kopi yang langsung terhubung dengan para petani. Rumah Kopi Ranin ingin menjadikan kopi Indonesia kualitas terbaik menjadi tuan rumah di negerinya sendiri.