12 December 2019

HORAS KOPI SAMOSIR

PSX_20191218_055645

Setelah terputus kira kira dua tahun, akhirnya kembali Rumah Kopi Ranin berkunjung ke Kaldera Purba terbesar Pulau Sumatera. Kunjungan ke Tano Batak kali ini, lebih tepatnya di jantung danau Toba, yaitu Pulau Samosir di Kabupaten Samosir.
Berangkat atas undangan dari lembaga Limnologi LIPI kami ikut dalam kegiatan para peneliti yang mengembangkan technopark di Kab. Samosir. Awalnya tim banyak terlibat dalam urusan air dan pembenihan indukan ikan di danau Toba seperti pembenihan ikan Ihan Toba yang legendaris yang legendaris itu.

Tapi seiring dengan makin banyaknya kegiatan masyarakat di sekitar daerah Pangururan Samosir yang terjun di dunia kopi. Jadilah upaya perbaikan kualitas kopi Samosir menjadi bagian prioritas program dari LIPI yang sangat didukung pemerintah Kabupaten.

PSX_20191218_052040Sangat kaget dan hampir tidak percaya karena pada hari pertama kedatangan rupanya telah ditunggu oleh para pemilik kedai, prosesor kopi, pemilik roaster dan para petani kopi. Tidak kami duga, rupanya geliat pariwisata yang tengah dicanangkan oleh pemerintah menjadi darah segar yang menggerakan kebangkitan kopi rakyat di sekitar Pangururan.

Sejak kami melewati kecamatan Tele, suasana wisata memang sangat terlihat. Wisatawan lokal dan mancanegara terlihat datang silih berganti ke menara pandang yang ada di pinggir jalan. Kopi menjadi salah satu minuman yang pas untuk menghangatkan tubuh.

PSX_20191219_151654Rupanya sampai kami menyeberang ke Pulau Samosir, suasana wisata juga sangat terasa. Beberapa penginapan dan hotel berdiri di pinggir danau. Lagi-lagi kopi adalah teman paling nikmat menikmati salah satu danau terbesar dunia ini.

Para peserta workshop rupanya sudah mempersiapkan diri dengan green bean yang mereka miliki masing-masing. Cukup menarik, karena perjalanan kami di Sumatera Utara sebelumnya justru tidak banyak bersentuhan dengan petani yang mau mengolah kopi hingga green bean. Hampir sebagian petani hanyalah menjadi produsen kòpi gabah basah.

Hari itu LIPI telah menyiapkan fasilitas berupa mesin roaster kecil untuk dicoba peserta. Sangat menarik, karena untuk sebagian besar peserta kesempatan tersebut menjadi kali pertama mereka menyangrai. Justru pengalaman itulah yang membuat semangat para produsen kopj lokal ini makin berkibar.

Sampai akhirnya kami dari Rumah Kopi Ranin memimpin acara cupping dari seluruh sample yang dimiliki oleh peserta. Yaitu masing masing kopi yang dibawa oleh petani, prosesor dan kedai di sangrai. Inilah kali pertama tiap petani merasakan dan membedakan citarasa kopi dari masing-masing kebun dan profile roastingnya.

Pada malam hari kami sempatkan untuk bertemu dengan anak-anak muda Pangururan di warung kopi Synergi. Salah satu kedai di pusat wisata ini terlihat ramai, baik oleh wisatawan ataupun anak muda lokal.

Meski perjalanan kali ini adalah dalam rangka wotkshop singkat kopi, tidak lengkap rasanya bila dilalui tanpa melihat kebun kopinya. Kami menembus petak demi petak kopi saat perjalanan menuju situs spiritual seluruh orang Batak di wilayah danau Toba yaitu gunung Pusuk Buhit. Sayangnya bulan desember kemarin kopi masih hijau, tapi bisa diduga kualitasnya karena ketinggian tanamnya rerata di atas 1200 meter di atas permukaan laut. Dan wilayah pangururan suhunya lumayan dingin, khususnya di beberapa bukit sekitarnya.
PSX_20191214_162800
Buat penggemar kopi, ayo coba datang ke Samosir dua keindahan berpadu nyata. Yaitu keindahan visual danau toba sebagai kaldera purba terbesar dab keindahan citarasa yang nyata yaitu kopi.