14 December 2016

Filsafat Dalam Secangkir Kopi

cup-taste

Tulisan ini menemui Anda untuk menjelaskan dua hal. Pertama, keterkaitan kopi dalam ikut melahirkan pemikiran, filsafat, dan kesenian di dunia. Kedua, tulisan ini justru ingin membongkar kopi itu sendiri dalam rentang sejarahnya dengan pisau pemikiran filsafat, khususnya post struktural.

Apa lacur kopi telah terlanjur ditulis dalam sejarah dunia dengan cara sangat istimewa. Berbeda dengan minuman lainnya, kopi diidentikan dengan dunia pemikiran, filsafat ataupun karya kebudayaan. Kelahiran karya-karya besar pemikiran dan filsafat terjadi karena penciptanya penggemar kopi.

Voltaire (1641-1778) adalah seorang pemikir liberalisme Perancis, bahkan juga pemikir politik modern. Karyanya menjadi rujukan penting beberapa pemikir lain seperti Jean Jacques Rousseau dan Montesque. Pemikiran Voltaire sangat kritis dengan gereja dan juga raja Louis XIV. Voltaire mempercayai relativisme dan berpandangan bahwa tidak benar bahwa masa lalu merupakan zaman terbaik, seperti selalu disebut oleh kelompok agama. Buatnya setiap jaman memiliki pemikiran terbaiknya dan juga kekurangan masing-masing sesuai dengan konteksnya. Voltaire sangat keras menentang agama yang mengagung-agungkan masa lalu.

Selain sebagai pemikir, Voltaire adalah juga seorang sastrawan dan juga penulis pamlet. Menariknya Voltaire melakukan kegiatannya untuk mengasah pemikiran dan juga menghasilkan pemikiran yang kemudian dia tuliskan dalam bentuk pamlet di cafe atau kedai kopi. Beberapa sumber menyebut bahwa Voltaire bisa menenggak kopi hingga 40 cangkir setiap hari.

Buat Voltaire, kedai kopi bukanlah tempat untuk membuang waktu atau sekadar berkelakar. Sebaliknya di kedai kopi Voltaire menjadi sangat produktif. Ketika dia diingatkan untuk tidak terlalu banyak mengkonsumsi kopi, justru dia membuktikan bahwa di usianya hingga 80 tahun dia sangat produktif. Virginia Muir dalam Listverse mencatat Voltaire rela membayar lebih ketika ingin mendapatkan beberapa kopi impor kesukaannya. Sebuah kedai kopi favoritnya terletak di Paris. Namanya Procope.

Kekaguman pada karya pemikir besar, tanpa bisa kita pungkiri membawa kita untuk tahu kebiasaan-kebiasaan keseharian dari tokoh tersebut. Jangan kaget, bahwa filsuf terkenal Immanuel Kant  ternyata memiliki kebiasaan minum kopi setelah makan malam.

Johann Sebastian Bach sengaja membuat komposisi Cantata Coffee untuk sebuah opera satir yang menggambarkan ketagihan akan kopi. Salah satu liriknya berbunyi “Ei! wie schmeckt der Coffee süße, Lieblicher als tausend Küsse, Milder als Muskatenwein. Coffee, Coffee muß ich haben, Und wenn jemand mich will laben, Ach, so schenkt mir Coffee ein!”. Dalam bahasa Indonesia lirik tersebut bunyinya, “Hmmm! Alangkah manis rasa kopi, lebih enak dari ribuan ciuman, lembut seperti anggur, kopi, kopi aku mesti dapat. Jika kau mencintaiku. Oh beri aku kopi!“

Bach secara sengaja membuat komposisi itu, untuk menyindir orang-orang German yang saat itu suka sinis melihat orang minum kopi.

Dalam sejarahnya, sebelum menginjak Eropah kopi dikenal terlebih dahulu di zajirah Arabia seperti Yaman. Itulah mengapa meskipun muasal kopi dari Ethiopia (center of origin), nama arabika dipakai sampai hari ini untuk menyebut species kopi.

Ketika akhirnya kopi masuk ke Eropa, karena dibawa oleh pasukan Turki. Sebelum ke Eropa kopi menemani banyak pengikut sufi. Mereka minum kopi sebelum melakukan ritual sufismenya.

Mengetahui bahwa peminum kopi sebagian besar beragama Islam, otoritas Katolik masa Paus Clement VII memutuskan untuk mengadakan upacara pembaptisan kopi. Tujuannya supaya kopi tidak hanya menjadi monopoli umat Islam saja. Seduhan kopi dengan susu segar yang kini digemari oleh anak-anak muda di kota, cappuccino, tiada lain adalah penamaan ketika warna kopi bercampur susu tersebut mirip dengan jubah pendeta ordo agama Katholik cappuccin.

Kritik Filsafat Dalam Kopi

Bila masa awal perkembangannya kopi banyak menjadi inspirasi ataupun teman para pemikir dalam berfilsafat dan berkesenian. Justru hari ini pemikiran filsafat bisa kita pakai untuk menjelaskan beberapa fenomena sosial, ekonomi, dan kebudayaan terkait perkopian. Bagaimana kopi disajikan, diproduksi, bahkan juga dimaknai seperti menjamurnya kedai kopi, bisa kita kupas dengan pendekatan filsafat.

Beberapa pemikiran ahli filsafat post-struktural, kami amati bisa menjadi pisau analisis.

Semoga dengan disandingkannya beberapa pemikiran filsafat dengan kopi, bisa memberikan jawaban buat mereka yang penasaran. Banyak kami jumpai anak muda mengantongi pertanyaan filosofi kopi, kebingungan untuk menemukan maksudnya.

Dunia perkopian tidak stagnan, tetapi mengalami perkembangan. Dalam perkembangan tersebut kita bisa lebih dalam mengetahui apa sebenarnya hakekatnya.

Pada masa pembangunan kira-kira tahun 1980an, sebelum era kedai kopi muncul, penggemar kopi membeli kopi sachet untuk diseduh. Dalam perspektif demokrasi dan kebebasan tentu kita tidak ada yang meragukan bahwa peminum kopi bebas memilih apa saja kopi yang hendak diminum. Tetapi sebenarnya makna kebebasan atas pilihan kopi yang diminum sebenarnya terbatas, yaitu terbatas pada iklan kopi yang sering dia dengar ataupun lihat. Artinya kebebasan yang ada adalah kebebasan yang dibentuk pada pilihan tertentu saja.

 

Herbert Marcuse menjelaskan fenomena ini, bahwa sebenarnya kapitalisme itu sudah bisa menentukan pola konsumsi manusia modern. Memang seolah-olah ada kebebasan. Tetapi sejatinya yang ada adalah pilihan yang sudah ditentukan. Jadi berapa yang hendak dibelanjakan pun sudah bisa diketahui ataupun diproyeksikan. Demikianlah kapitalisme modern membangun sistem ekonomi dengan membuat masyarakat tidak berkesadaran. Dalam konsep Marcuse dinamakan manusia yang kehilangan aspek penolakan atau disebut one dimentional man, yang juga menjadi buku karyanya.

Para perempuan buruh petik kopi di desa Wening Galih Ciwide. Sampai hari ini di kota penggemar kopi tidak tahu mereka. Karena sebagian besar kedai kopi memajang mesin modern dari pada identitas petani kopinya. Peminum kopi kita berkesadaran apakah?

Para perempuan buruh petik kopi di desa Wening Galih Ciwide. Sampai hari ini di kota penggemar kopi tidak tahu mereka. Karena sebagian besar kedai kopi memajang mesin modern dari pada identitas petani kopinya. Peminum kopi kita berkesadaran apakah?

Filsuf sekaligus ahli komunikasi dunia Jurgen Habermas, menyebut bahwa komunikasi di ruang publik sejatinya sangat didominasi oleh kekuatan modal dan juga pemilik kekuasaan. Kepentingan atau suara dari masyarakat biasa tidak mendapatkan tempat untuk didengar. Dalam hal ini, festival kopi, iklan kopi, lomba-lomba, kursus-kursus kegiatan kopi lainnya tanpa bisa dipungkiri telah bias kepada kepentingan kekuasaan ataupun pemilik modal/ perusahaan besar.

Kepentingan petani ataupun buruh kopi tidak mendapatkan tempat, bahkan ketika kopinya menjadi juara nasional ataupun juara dunia.  Kalau kita menggunakan pemikiran Jurgen Habermas harusnya komunikasi ataupun pembentukan pengetahuan tentang kopi sebaiknya mampu mengakomodasi secara apa adanya kepentingan dari buruh kebun dan petani kecil, tukang sortir dan kuli angkut kopi dalam public sphere perkopian Indonesia.

Hakekatnya kopi dinikmati karena citarasa dan aromanya. Karena itu indera lidah dan syaraf pencicip di rongga mulut dan indera pencium hidung memiliki kuasa untuk menjadi penentu kopi yang digemari atau disukai. Tetapi nyatanya kuasa indera pencium dan pencicip yang harusnya otonom, telah dikalahkan oleh pengetahuan yang ditanamkan atau dikonstruksikan di otak.

Buktinya otak memutuskan minum kopi hanya karena setiap hari dijejali oleh iklan yang meneror kesadaran dengan kemolekan perempuan bintang iklan atau kegagahan seorang pria yang menjadi pengiklan. Sigmund Frued telah memperingatkan di sini bahwa ada sisi erotisme pada manusia yang bisa dieksploitasi secara ekonomi.

Karena manusia sudah tidak terbiasa untuk menceritakan pengalaman mencicipi melalui lidahnya dan menjadi sangat jarang menuturkan bau apa yang dialami oleh hidungnya, maka ketika diminta untuk menceritakan aroma dan citarasa kopi akhirnya tidak bisa. Lidahnya kelu, karena tidak memiliki kosakata untuk mengekspresikan, seolah tidak memiliki pengetahuan dari apa yang dialami sehari-hari. Rasa enak yang sejati, telah diokupasi oleh persepsi yang dibangun oleh bintang iklan atau tokoh yang dikonstruksikan oleh media pesanan perusahaan besar.

Tingginya animo masyarakat untuk menikmati kopi, membuat beberapa pebisnis membuat coffee shop dengan model atau style yang mengambil dari gaya yang berkembang di Eropa, Amerika, ataupun Australia. Di era kebebasan dan demokrasi, tentu saja dimungkinkan untuk mengambil style yang kita mau dari mana saja. Tetapi keputusan dalam kebebasan tersebut, hakekatnya bermakna menjadi belenggu bagi mereka yang tidak berkesadaran kritis. Tanpa berkesadaran kritis bisa muncul anggapan bahwa coffee shop yang modern adalah yang ada di Eropa, Amerika, ataupun Australia.

Bukan hanya itu, muncul anggapan bahwa menyeduh kopi musti menggunakan mesin kopi mahal. Pada akhirnya mesin kopi, grinder dan mesin roasting dipajang karena kemahalannya. Bahkan kerap tanpa diikuti dengan informasi tentang jatidiri rasa kopinya ataupun petani penghasil kopinya.

Fenomena ini tepat untuk dikupas dengan menggunakan pemikiran seorang ahli filsafat Horkheimer yang dia sangat kritis terhadap modernitas positivis untuk rasional instrumental. Horkheimer bahkan mengkritisi Immanuel Kant sebagai filsuf awal pendorong rasionalitas.  Horkheimer menuliskan  karena modernitas pada akhirnya lebih berangkat pada kekuasaan modal yang membentuk instrumen-instrumen modern. Menjadi sangat aneh bila mesin kopi yang mahal menjadi selling point, tetapi bukan informasi yang mendetail tentang petani kopi. Bukankah tidak ada kopi enak, tanpa sosok petani yang merawatnya.

Mengapa justru style negara modern yang dipilih untuk merepresentasi kopi, padahal di negara tersebut kopi tidak pernah bisa ditanam. Bahkan kopi yang enak di dunia, sejak abad 17 diakui oleh dunia adalah kopi yang asalnya dari Indonesia. Kegagalan dalam memahi hakikat dan akar sejarah inilah yang dikritisi dengan sangat oleh Horkheimer.

Pemikiran Theodor Wiesengrund Adorno, seorang filsuf mazhab Frankfurt dari German, sangat gamblang menjelaskan bahwa kapitalisme pada akhirya mendorong konsumerisme itu sendiri. Dimana akhirnya muncul industri kebudayaan populer yang mencerminkan fetisisme komoditas. Konsumen mendatangi kedai kopi karena gengsi atay lifestyle, tanpa peduli substansi kopi yang hendak dia nikmati. Bahkan beberapa kedai modern memang tiada pernah menyeduh kopi yang berkualitas. Tetapi konsumen datang dan merasa telah menikmati kopi yang berkualitas.

Jurgen Habermas adalah ahli filsafat sekaligus ahli komunikasi dari Jerman yang menyebut bahwa "ruang publik" terlalu didominasi oleh kuasa modal sehingga banyak kelompok yang tidak bisa di dengar aspirasinya.

Jurgen Habermas adalah ahli filsafat sekaligus ahli komunikasi dari Jerman yang menyebut bahwa “ruang publik” terlalu didominasi oleh kuasa modal sehingga banyak kelompok yang tidak bisa di dengar aspirasinya.

Konsep setiap seduhan merayakan persahabatan memiliki sebuah keinginan pada sebuah proses transformasi manusia. Duduk menikmati kopi bersama sahabat bisa dimaknai untuk melepaskan segala macam hegemoni kekuasaan yang tanpa disadari membelenggu tiap-tiap individu. Menurut Antonio Gramci, sistem kapitalisme menciptakan pemaksaan melalui kekuasaan yang koersif (dengan kekerasan) ataupun dengan pengkondisian kepatuhan dengan hegemoni kebudayaan. Keduanya menjadikan daya kritis masyarakat menjadi terkikis.

Gramci menyarankan bahwa untuk mengatasi hegemoni budaya adalah dengan membangun blok solidaritas dari kelompok kecil yang kritis. Kekritisan dalam konteks kopi, adalah melalui kelompok kelompok kecil ini  bisa dibangun kesadaran.

Terhadap kopinya sendiri, kelompok kecil ini bisa diedukasi tentang kualitas kopi yang bagus. Kesadaran tentang kopi yang berkualitas diantara para penikmat kopi membawa mereka untuk ikut dalam upaya untuk bersama-sama mengeluarkan hegemoni kopi komersial di tingkat petani.

Artinya blok solidaritas berubah menjadi kelompok intelektual organik[1] yang ikut bersama-sama dalam upaya untuk mengeluarkan petani kopi dari sirkuit produksi kopi grade komersial yang dikuasai oleh pabrikan-pabrikan besar sebagai hegemoni ekonomi dan juga kebudayaan. Inilah sebenarnya yang bisa kita baca dengan gagasan tentang merayakan persahabatan yaitu bersahabatnya para intelektual organik.

[1] E. Durkheim membagi kesadaran masyarakat dari yang mekanis, yaitu yang berangkat dari kehomogenan latar belakang menjadi organis yang mencerminkan modernitas karena berbagai macam latar belakang  dan perbedaan. Solidaritas organik menunjukan keterbukaan rasionalitas untuk mencapai tujuannya.