10 February 2016

Dua Ahli Tanah Penggila Kopi

Dr. Gunawa Djajakirana, Ahlli Biologi Tanah IPB


Mereka yang pernah kuliah di Jurusan Tanah IPB, siapa yang tidak kenal dua orang dosen ini. Basuki Sumawinata dan Gunawa Djajakirana. Maklum keduanya mengajar mata kuliah penting yang wajib diambil untuk menjadi sarjana tanah.

Tentu bukan soal perkuliahan ilmu tanah yang hendak sampaikan di sini. Akan tetapi justru pada aspek yang lebih detail lagi dari dua sosok ahli tanah ini.

basuki

Dr. Basuki Sumawinata, pengajar senior di Departemen Ilmu Tanah Faperta IPB. (foto Iwan Setiawan)

Kelebihan dari kedua orang pengajar senior ini adalah kegilaan minum kopi enak. Pak Basuki selalu bercerita bahwa setiap kali melakukan survey tanah yang menjadi buah tangan adalah kopi dari daerah setempat. Terakhir Pak Basuki meminta rumah kopi ranin untuk menyangrai kopi beras dari Aceh. Sedangkan Pak Gunawan sendiri menganggap bahwa minum kopi enak itu sebagai refleksi dari apresiasi terhadap pertanian itu sendiri. Menurutnya “Di IPB memang banyak yang menyukai kopi. Tetapi sebenarnya mereka menyukai kopi yang asalan saja. Bukan kopi yang benar dipetik merah dan di proses yang benar. Harusnya pengajar pertanian juga memiliki selera kopi atau teh yang enak, bukan kualitas yang asalan”.

Kopi enak yang dimaksud sudah barang tentu yang dipetik merah, diolah dengan proses benar baik kering ataupun basah (wash) dan di sangrai dengan tepat sesuai karakter kopi. Di balik kesibukan Pak Basuki yang padat dengan mengajar, bimbingan mahasiswa ataupun survey tanah hingga ke pedalaman berlahan gambut di luar Jawa. Sering kali tiba-tiba saja beliau akan muncul datang ke Rumah Kopi Ranin untuk satu cangkir seduhan V60 kegemarannya sebelum melanjutkan ke kampus Darmaga.

Kerap beliau datang ditemani oleh puteranya Ican yang juga telah mewarisi kebisaan bagus dari bapaknya, menyukai kopi enak Indonesia.

tanah-cibulao1

Sebagai penyuka kopi dan ahli tanah, Gunawan dan Basuki merasa selalu gelisah bila tidak mengunjungi kebunnya. Terlebih bila kebunnya ada di Bogor, tempat mereka mengajarkan ilmu setiap hari. (foto Iwan Setiawan)

Kedua ahli kopi ini sepakat bahwa selain proses pengolahan, sangrai dan penyeduhan,  tanah menjadi faktor yang menentukan citarasa kopi. Karena hanya di tanah yang subur pohon kopi akan tumbuh dengan baik.

Sejak dikenalkan kopi robusta Bogor di Rumah Kopi Ranin, Pak Basuki penasaran untuk mengunjungi kebunnya. Sampai akhirnya beliau menelepon untuk diantar ke Cibulao, Cisarua Utara, Bogor kamis pagi itu.

Berempat dalam mobil Toyota Hadrtop kebanggaannya, kami berangkat dari ranin berbekal secangkir kopi, menuju puncak. Kami berangkat menggunakan dua kendaraan karena Iwan Setiawan alumni agrometeorologi IPB yang juga penggila kopi sudah lama pesen untuk diajak ke kebun kopi. Termasuk Soleh, seorang profesional lari pegunungan ikut serta pagi itu. Semuanya adalah penyuka kopi dan dipertemukan oleh kopi.

Berbekal segelas kopi di paper cup masing-masing, kami berangkat dari ranin menuju daerah Puncak. Sampai akhirnya kami belok kiri di kebun teh Ciliwung selepas masjid Atta’awun. Menyusuri jalan kebun teh kami sampai di Kampung Cibulao.

Banyak cerita yang bisa dipetik dari kunjungan dua orang ahli tanah untuk para petani Cibulao. Misalnya soal baris guludan sangat penting dibuat melintang bukit, sehingga ketika hujan turun muka tanah tidak larut dengan air hujan. Menurut beliau top soil sangat penting untuk membuat tanaman kopi tumbuh subur. Bisa saja hari ini top soil masih tebal, tetapi karena Bogor sering hujan bisa jadi 3 tahun lagi sudah tidak ada. Inilah teknik pengolahan tanah yang musti diaplikasikan oleh para petani kopi di kelerengan. Karena kesuburan lahan dari hutan jangan sampai cuma disia-siakan saja.

cibulao tanah

Gunawan Djajakirana menjelaskan bahwa lapisan tanah yang berwarna putih ditengah itu adalah abu dari gunung berapi. Diperlukan waktu ratusan tahun untuk mengurainya menjadi tanah. Adapun yang paling atas berwarna kehitaman itulah top soil yang banyak mengandung unsur hara. Karena itu supaya top soil terjaga tidtidak larut oleh air hujan atau terpapar matahari tidak disarankan untuk membersihkan rerumputan. (foto Iwan Setiawan)

Sosok sebagai ahli tanah tulen tergambar pada dua sosok dosen ini, ketika keduanya tidak lelah mendaki bukit kopi di pagi yang cerah itu. Pak Gunawan yang sangat dikenal dengan ilmu tentang biologi tanah menjelaskan mengenai proses pembentukan tanah sesaat kami melintas pada tebing dengan lapisan-lapisan tanah yang terlihat jelas.

Ketika kami sampai dibawah lembah bukit, kami istirahat sejenak dan mengambil air dari matair yang juga menjadi hulu sungai Ciliwung. Kami memasak air dan menggiling kopi robusta Cibulao dengan penggiling manual yang kami bawa. Sungguh pengalaman yang indah. Terlebih ketika kopi kami telah siap untuk diminum.

Cibulao selain memiliki kebun kopi, telah juga dikenal sebagai bike track yang melintas hutan alam. Tidak kurang dari 300 pesepeda tiap akhir pekan melintas di hutan alam. Mereka mengenal track sepeda itu sebagai KTH (kelompok Tani Hutan) Bike Park yang dirintis oleh Pak Yono dan warga kampung Cibulao. Pertama kali dikenalkan ke ranin, tentang kopi Cibulao ini oleh para penggiat pengembangan masyarakat yang berada di Pusat Pengkajian, Perencanaan dan Pengembangan Wilayah P4W IPB yang juga digawangi oleh Pak Ernan seorang ahli pengembangan wilayah.

Ditemani oleh Pak Yono yang menjadi petani di kopi Cibulao kami banyak mendapat cerita tentang pertanian dari Pak Gunawan. Misalnya keprihatinan Beliau, bahwa banyak areal perkebunan teh ataupun kopi yang keberadaanya hanya mewarisi peninggalan Belanda. “Kita sejauh ini cuma bisa mewarisi tanaman Belanda, artinya tidak pernah ikut membuka kebunnya. Sayangnya hanya sekedar mewarisi saja, merawatnya juga sembarangan. Ini yang menjadi penyebab kualitas produksi juga menurun.”

ngopi-cibulao

Tepat di salah satu mata air sungai Ciliwung, kami istirahat memasak air panas dan menyeduh kopi untuk dinimati bersama- sama sambil berbagi cerita. (foto Iwan setiawan)

Di sisi lain, Gunawan sangat prihatin, “Selera konsumen di Indonesia juga mayoritas belum mengapresiasi kopi ataupun teh premium. Bahkan ahli-ahli pertanian juga tidak banyak yang memiliki apresiasi yang baik atas produk pertanian. Jika produk berkualitas yang dikonsumsi maka bisa muncul permintaan dan menggairahkan produksi. Semuanya memang harus mendapat perhatian, di aspek budidaya juga perlu diperhatikan khususnya aspek tanah.”

Bila para ahli pertanian sering pergi ke kebun, bertemu dengan petani dan berbagi cerita serta pengetahuan tentu bakal memberikan ikut memajukan pertanian Indonesia.

Soal kopi saja misalnya, pasti akan menjadi kontribusi yang sangat penting bagi masa depan kopi dan petaninya. Andai saja para mahasiswa IPB juga sering ke kebun kopi di Bogor ini, setidaknya mereka bisa menikmati kopi enak.

Kapan kita ke kebun lagi Pak Bas dan Pak Gun?

 

kopi-cibulao

Di hulu sungai Ciliwung kopi robusta Bogor ini ditanam, kali ini bubuk kopinya kami nikmati tepat di salah satu mata air Ciliwung. Nikmatnya ngopi di tengah alam. (foto Iwan Setiawan)