23 December 2016

Atas Nama Petani

rumah-petani

Beberapa kali dia menelpon saya. Pertama saya tidak ingat dengan nama seseorang yang disebutnya merekomendasi dirinya untuk menemui saya. Saya pura-pura mengenal temannya tersebut sambil berusaha keras memanggil ingatan tentang nama siapa yang dia maksud. Setiap hari selalu ada orang atau nama baru yang datang untuk menikmati kopi. Dan memori saya tidak mampu menampung semua nama itu. “Saya ingin menunjukan kopi dari petani mitra kami Pak. Barangkali Ranin bisa menyeduhnya, itung-itung biar bisa ikut membantu petani.” Suaranya diujung telepon terdengar jauh. Saya menyuruhnya untuk datang saja, dari pada harus berpanjang lebar ngomong ditelpon.

Kata petani tanpa bisa diingkari adalah kata yang penting. Sering saya pikir kata ini sudah mirip dengan kata umat atau rakyat. Siapa yang mau disebut tidak mendukung agenda umat. Atau menentang kehendak rakyat. Demikian juga manakala kata petani disebut, maka pamali bila sampai tidak menyeduh kopinya petani.

Dalam hati sebenarnya saya menjadi senang. Bukankah dengan makin banyak orang menyebut petani, makin banyak yang menyadari arti penting manusia petani. Maklum dalam perkopian Indonesia 3 abad lamanya yang dikenal bukan petaninya. Para penikmat kopi dari kalangan warung kopi tampomas pinggiran jalan sampai dengan rumah gedongan di komplek perumahan mewah tahunya adalah merk kopi. Bila di suruh menyebut merk mereka hapal. Wajar karena setiap hari rajin nonton iklan tivi.

Memang benar merk kopi yang mereka sebut juga menggunakan kopi produksi petani. Mana ada perusahaan besar mau bekerja sendiri menanam, memetik hingga mengolah kopi. Hanya saja setelah kopi petani mereka beli, habis sudah urusan. Nama petani tidak ada lagi. Yang ada muncul merk kopi.

Jadi kalau ada yang mengangkat-angkat kata petani, rasanya seperti bicara bukan lagi soal dagang. Tapi sudah bicara soal harkat dan martabat kemanusiaan.

“Jadi Anda ini pendamping petani?” tanya saya setelah tamu itu datang ke kedai dan menyeruput kopi kali ketiga dari cangkirnya.

“Saya sendiri bukan petani. Tapi kami ingin membantu petani, memfasilitasi mereka untuk berlatih mengolah kopi. Tapi kami ingin membantu pemasaran mereka.” Jawabnya, sambil memberikan kartu nama sebuah perusahaan.

Jumlah peminum kopi di kedai seperti kami ini jumlahnya terlalu sedikit bila dibandingkan dengan jumlah keluarga yang ada di desa tempat kopi itu berasal. Rata-rata seluruh anggota keluarganyapun ikut minum kopi setiap hari. Bahkan di kabupaten tempat kopinya di tanam, juga hampir semua masyarakatnya suka kopi. Kecuali di daerah Humbang Hasundutan Sumatera Utara, penduduknya tidak minum kopi.

Sebenarnya, bila di tingkat lokal masyarakatnya ikut diajak untuk minum kopi mereka sendiri, maka pasar bagi kopi petani sangat besar. Artinya pula pasar itu bahkan sangat kuat. Sayangnya hampir semua daerah tidak mau melakukannya. Mereka selalu pikir pasar kopi adalah yang paham kopi. Tapi sebenarnya pasar itu tidak mampu menyerap banyak kopi. Pasar lokal di daerah itulah sebenarnya yang lebih besar.

Kalau saja pemerintah daerah, memiliki komitmen untuk menyediakan minuman kopi untuk pegawainya dari produksi petani setempat tentu sudah sangat banyak juga kebutuhannya. Belum lagi bila bisa dipakai sebagai oleh-oleh khas daerah.

Sayangnya sudah beberapa kali saya tekankan dalam obrolan meja kopi itu, dia nampak tidak tertarik dengan ide saya. Rupanya fokus kunjungannya adalah apakah saya mau beli kopinya. Memang benar juga dia, kalau saya beli hari ini juga artinya sudah jelas ada pembelian. Kalau harus membuat festival kopi di desa, walau sebenarnya atas nama petani juga, banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Belum lagi tidak mudah untuk mengumpulkan petani ataupun mengajak masyarakat desa.

Sekelebat saya jadi ingat petani kopi di Cibulao. Sambil melihat ke cangkir kopi, seolah bayangan wajah mereka senyum-senyum mengambang di permukaan kopi. Saya jadi teringat kalimat melalui teks we-a mereka terakhir di hape. “Pak pusing nih. Setiap hari ada tamu datang ka lembur. Nyari kopi.” Pusing enak rupanya.

Kopi enak mah dicari orang mau ka lembur juga…